Di sisi lain, pentingnya integritas dalam jurnalisme juga ditekankan oleh Amrul. Wartawan perlu hadir di lapangan, melakukan wawancara langsung dengan narasumber untuk memastikan akurasi informasi. “Jangan hanya menulis dari kejauhan tanpa data. Jika tidak, bisa timbul misinformasi yang merugikan banyak pihak,” tambahnya.
Sekretaris Jenderal Warkop, Anto Gani, juga menyampaikan pemikiran serupa. Sebagai wartawan senior Tribun Ternate, ia menekankan pentingnya literasi informasi sebagai filter utama dalam menghadapi banjirnya informasi. “Literasi publik jauh lebih penting. Tanpa kemampuan berpikir kritis, masyarakat akan mudah terombang-ambing oleh isu yang tidak jelas sumbernya,” ungkapnya.
Anto menggambarkan bahwa media harus bersikap independen dan tidak terpengaruh oleh tekanan dari pihak manapun. Menurutnya, media berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang menjaga integritas dan kredibilitas informasi yang disampaikan. Ia memberikan contoh bagaimana pemberitaan yang sensasional dapat berdampak buruk pada psikologis maupun reputasi individu.
“Bayangkan jika ada berita yang menyebut ‘Daniel mencuri handphone’ tanpa bukti. Masyarakat bisa langsung menghakimi tanpa proses hukum yang adil, ini berbahaya,” tuturnya.
Keduanya sepakat bahwa di era digital, media harus berperan sebagai agen pendidikan publik. Tanpa adanya literasi informasi yang baik, masyarakat akan terus menjadi korban dari hoaks dan misinformasi. Oleh karena itu, kolaborasi antara jurnalis, penulis, dan masyarakat sangat diperlukan untuk membangun ruang informasi yang sehat, objektif, dan terpercaya.
Dengan demikian, literasi informasi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tugas kolektif yang harus dijunjung bersama untuk menciptakan kesadaran dan kebijaksanaan dalam konsumsi berita di era digital ini. (*RMI/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!