Pengamat : Kenaikan UMP 6,5 Persen Picu Disparitas dan Inflasi Tinggi di Daerah

Menurut Bhima, impian Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen sulit tercapai. “Jangankan (ekonomi) 8 persen tahun 2025 ke depan, bahkan pertumbuhan ekonomi diramal hanya tumbuh 4 persen karena daya beli terlalu tergerus oleh berbagai pungutan dan tarif yang dibebankan kepada para pekerja,” ujarnya.

Kata Bhima, jika pemerintah memukul rata kenaikan UMP 6,5 persen ke semua daerah, maka konsekuensi yang terjadi adalah beberapa daerah yang memiliki tingkat inflasi lebih tinggi dan akan memicu disparitas daya beli antar wilayah.

BACA JUGA  Dari Telaga Ranu ke Gaza: Kontroversi Afiliasi Israel di Proyek Energi Halmahera

Jika pemerintah memukul rata kenaikan UMP 6,5 persen ke semua daerah, lanjutnya, maka konsekuensi yang terjadi adalah beberapa daerah yang memiliki tingkat inflasi lebih tinggi dan akan memicu disparitas daya beli antar wilayah. Untuk itu, menurutnya, UMP dan UMK 2025 sebesar 6,5 persen dinilai terlalu rendah. “Kecuali, semua beban kle pekerja tahun depan dibatalkan,” imbuhnya.

BACA JUGA  Pemprov Malut Pangkas Biaya Perjalanan Dinas, Pj Gubernur : Anggota DPRD Juga Sama

Di sisi lain, Bhima memandang, relokasi pabrik atau investasi karena upah rendah tidak selalu relevan. “Relokasi lebih disebabkan oleh faktor infrastruktur, biaya logistik, konsistensi kebijakan, nilai ICOR, dan adopsi teknologi,” tandasnya. (Redaksi)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah