Maluku Utara, Haliyora.id – Desa-desa di Kecamatan Weda Halmahera Tengah sudah menjual tanah pertaniannya ke perusahaan tambang. Kini Pemerintah berharap Desa Kobe dan Desa Sawai Itepo bisa menjadi penopang pangan desa-desa yang sudah tidak punya tanah pertanian. Nyatanya kedua desa ini juga terengah-engah mencukupi kebutuhan mereka.

(Lahan pertanian seluas 1,2 hektar yang ditanami jangung di Desa Kobe Halteng : Dok Sahrul Jabidi)
Hari mulai beranjak siang, Rabu tanggal 28 Maret 2024. Perjalanan menuju Desa Kobe dan Desa Sawai Itepo Kecamatan Weda Tengah menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit dari Weda Ibukota Kabupaten Halmahera Tengah.
Dua desa ini dulunya satu, namun pada tahun 1968 terpecah menjadi dua kelompok yang dikenal dengan Kobe Gunung dan Kobe Pante, kemudian pada tahun 2008 baru dimekarkan menjadi dua desa yaitu Desa Sawai Itepo dan Desa Kobe yang sebenarnya lebih menggambarkan suku Sawai secara umum di daratan Halmahera Tengah.
Masyarakat di dua desa itu berprofesi sebagai petani dan nelayan yang bergantung pada hutan dan laut demi kebutuhan sehar-hari. Mereka selalu disinggung Dinas Pertanian Halmahera Tengah sebagai desa yang masih bertahan dengan pangan lokal. Hal ini dikarenakan mereka jauh dari aktivitas industri pertambangan, namun menjadi penopang pangan desa lain yang berada di lingkungan tambang.
Yordan Warga Desa Kobe Peplis mengatakan, sampai saat ini masyarakat di dua desa itu tidak mengalami kekurangan pangan, karena rata-rata masyarakat memiliki lahan Perkebunan. Bila ada hasil yang lebih, maka dijual ke Weda Ibukota maupun Desa Lelilef.
Namun tanaman pangan lokal yang dihasilkan dari kebun tidak sebanyak hingga mencapai ton, sebagaimana yang disampaikan pemerintah dengan harapan bisa membantu desa lain.
“Sampai sejauh ini tidak ada kekurangan pangan. Hanya saja lahan yang memang terbatas, karena daerahnya penggunungan,” kata Yordan begitu disambangi di desa setempat, Kamis 29 Maret 2024.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!