“Kita hanya bisa menyesuaikan diri apabila ada stigma-stigma seperti itu. Stigma gender terkait soal perempuan yang tidak bisa menjadi seorang pemimpin, itu hanyalah sebuah mitos,” kata Henny di sesi wawancara bersama wartawan Haliyora.id, Kamis (25/4/2024).
Henny, menyebut stigma semacam ini sebenarnya hanyalah mitos. Kata dia, stigma yang dibangun itu seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk merasionalkan kepada masyarakat bahwa itu hanyalah stigma. “Tapi memang ini juga butuh waktu, tidak sekedar kita membalikkan telapak tangan ketika kita melakukan sosialisasi atau edukasi,” tambahannya.
Henny membandingkan dengan pengalaman pada Pilwako Ternate tahun 2020 lalu dimana stigma gender terkait dengan perempuan tidak bisa memimpin. “Memang justru yang kemarin jika kita mengambil pengalaman dari ibu Merlisa maupun Ibu Nita, justru yang tidak memilih perempuan itu adalah kebanyakan dari perempuan itu sendiri, karena jumlah penduduk perempuan dan laki-laki di Kota Ternate itu lebih banyak perempuan, sekitar 60 persen,” timpalnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!