Didik bilang, sinopsis yang diangkat dalam teater puisi ini juga mengangkat perasaan keluarga mendiang Asi Lessy terutama anak dan cucunya.
“Teater ini diangkat sebagai bentuk perasaan dari seorang cucu yang menceritakan tentang kematian Neneknya. Sehingga dibuatlah konsep dalam bentuk teatrikal puisi ini. Bahkan cucu dari mendiang Asi Lessy berperan sebagai aktor utama dalam pentas ini. Yang jelas konsep puisi ini lebih merujuk pada tragedi kematian Nenek Asi. Sehingga kami mengambil jalan tengah pada konteks terakhir di dalam isi puisi yang disebutkan bahwa menjadi rahasia sang pencipta, sebab kematian Nenek Asi masih meninggalkan misteri,” lanjutnya.
Didik menambahkan, inti dari puisi yang diangkat ini berlatar empati mereka terhadap almarhumah Asi Lessy. “Tapi, skenario pertunjukan ini bukan berarti kami memperkeruh suasana, tapi kematian dari mendiang ini sebagai pengingat sesuatu yang misterius. Selain itu, teatrikal ini sebagai bentuk kritikan kepada mereka dalam hal ini penegak hukum serta bentuk kreasi kami sebagai sindiran halus kepada kepolisian karena banyak kasus yang tidak ditangani dengan tuntas, misalnya kasus kematian teman guru kami yang dibakar hidup-hidup di area wisata Air Kaca,” singgungnya.
“Mudah-mudahan kasus ini terbuka tuntas dan bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat, terutama pihak keluarga. Tapi mudah-mudahan kepolisian kita terutama di Polres Pulau Morotai lebih profesional sehingga apapun kasusnya bisa ditangani dengan baik dan tuntas,” tandasnya. (RF-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!