Jurusan Kesehatan Lingkungan mengadakan Seminar Nasional

Ternate, Maluku Utara- Jurusan Kesehatan Lingkungan di Poltekkes Kemenkes Ternate yang merupakan salah satu pelopor kesehatan lingkungan di wilayah maluku utara, memandang perlu mengadakan seminar nasional dengan tema penyakit berbasis lingkungan, sebagai upaya pembentukan karakter dan prilaku masyarakat guna meningkatkan kesadaran akan bahaya dari penyakit berbasis lingkungan yang ada disekitar kita.

Sebagai Bentuk Perayaan Momentum 1 Dekade Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Ternate pada 12 april 2022.

Penyakit berbasis lingkungan telah lama menjadi masalah yang mengganggu kehidupan bermasyarakat khususnya di lingkungan kota di indonesia, terlebih lagi di kota ternate.

Berbagai kondisi juga telah dikemukakan dalam beberpa penelitian yang dilakukan oleh dosen poltekkes kemenkes ternate mendukung kenapa jurusan Kesehatan lingkungan mengambil inisiatif untuk mengadakan seminar nasional dengan tema seputar penyakit berbasis lingkungan, diantaranya, banyaknya sampah yang berhamburan di pinggir jalan dapat menyebabkan perkembangbiakan vector penyakit seperti lalat dan mampu menjadi  penyebab penyakit seperti diare. Serta banyaknya air limbah yang menggenang di selokan dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk pembawa penyakit sehingga dapat mengakibatkan penyakit malaria dan DBD.

Seminar Nasional Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Ternate

Acara ini dibuka langsung oleh ketua jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Ternate, Ibu Dwi Wahyu Purwiningsih SKM., M.PH. dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa perubahan signifikat pada iklim, suhu udara dan curah hujan, mulai dari dasawarsa hingga jutaan tahun diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi gas carbon dioksida dan gas gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca selain itu perubahan iklim di mungkinkan karena proses alam internal ataupun eksetrnal yang berupa ulah manusia dengan terus menerus merubah komposisi atmosfer dan tata guna lahan, perubahan iklim juga telah mengakibatkan perubahan suhu di beberapa belahan dunia dengan konsekuensi nyata bagi Kesehatan manusia.

BACA JUGA  Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Ternate Laksanakan Kegiatan Jalan Sehat

Berdasar hal tersebutlah civitas akademika Poltekkes kemenkes Ternate melalui jurusan kesehatan lingkungan berinisiatif mengadakan  seminar nasional yang bertema:

“PERAN TENAGA SANITARIAN DALAM TANGGAP PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN AKIBAT PERUBAHAN IKLIM”.

Dengan mengundang pembicara dari berbagai pihak diantaranya adalah

Adila isfandiari ST., Msc memberikan paparan materi terkait krisis ikim dan dampaknya

Adila Isfandiari, ST, M.Sc dari Greenpeace Indonesia  yang mengusung materi : “overview, dampak lingkungan terhadap perubahan iklim dan upaya penanggulangannya”.

Dalam paparannya beliau menyatakan bahwa Indonesia mengalami krisis iklim dimana terjadi kemarau ekstrim yang menyebabkan beberapa daerah mengalamai gagal panen dan beliau juga mengutip jurnal yang mengatakan bahwa suhu yang tinggi akibat krisis iklim dapat menurunkan hasil panen padi ciherang di Indonesia sebesar 20-30% dengan rentang waktu 2039-2042.

BACA JUGA  Proyek RSUD Sofifi Terancam tak Berlanjut, Ini Penjelasan Kadis Kesehatan Malut
Suharto SKM M.Kes, memaparkan materi terkait penyebab dan dampak dari pemanasan global

Pemateri kedua disampaikan oleh Suharto SKM, M.Kes selaku Pembina HAKLI provinsi maluku utara yang mengusung materi: “peran sanitarian dalam tanggap penyakit berbasis lingkungan dan upaya penanggulangan perubahan iklim”.

dalam paparannya beliau mengatakan, Sekitar 8 penyebab pokok dari pemanasan global dimana yang paling berperan penting adalah sampah plastic dengan dampak yang dirasakan secara angsung dan dampak yang akan terjadi setelahnya atau efek dari dampak langsung yaitu ambruknya ekonomi, konflik dan kelaparan.

Purnama sidebang SKM., M.K.M memaparkan materi terkait pemanasan global dan penyakit berbasis lingkungan

Selanjutnya pemateri  ketiga yaitu Purnama Sidebang,SKM, M.KM sebagai Dosen Jurusan Kesling yang mengusung materi: “perubahan iklim dan penyakit berbasis lingkungan” yang mengatakan bahwa orang orang yang paling rentan terhadap cuaca panas berlebih adalah orang yang tidak memiliki tempat tinggal, orang tua, bayi dan anak-anak, mereka yang memiliki kondisi medis tertentu, orang dengan penyakit paru, orang dengan penyakit mental, dan pekerja di bidang pertanian.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui zoom meeting, dan dihadiri setidaknya sekitar 1500 lebih peserta dari seluruh indonesia. (Red)

 

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah