Oleh : Dr. Helmi Alhadar., M.Si. Dosen komunikasi UMMU. Direktur Leskompol (lembaga strategi komunikasi dan politik)
Keputusan timsel ake gale meloloskan Abdullah Bandang sebagai salah satu calon dewan pengawas perumda ake gale menimbulkan reaksi penolakan dari sebagian masyarakat.
Hal ini disebabkan karena Abdullah diketahui sebagai seorang pengurus partai dengan jabatan strategis, padahal untuk posisi itu dalam aturan tidak dibenarkan politisi mendudukinya. Apalagi orang tersebut berada dalam partai yang sama dengan sang walikota. Tauhid pun bersikap dengan membela Abdullah dengan dalil bahwa Abdullah telah resmi mundur dari pengurus partai.
Di saat bersamaan, Malik Ibrahim, yang juga salah seorang anggota partai tersebut mengeluarkan pernyataan yang kontra dengan Tauhid. Malik mengatakan bahwa Abdullah masih sebagai pengurus partai Nasdem Kota Ternate dengan jabatan sebagai sekretaris DPD Nasdem kota. Polemik dan kegaduhan pun tidak terhindarkan. Dalam kasus ini, saya lebih tertarik melihat fenomena ini dari perspektif komunikasi, dimana salah satu prinsipnya adalah, bhw komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan.
Dalam konteks ini, mungkin masyarakat lebih melihat bahwa keputusan timsel meloloskan Abdullah sebagai suatu keputusan yang telah disetting atau disengaja dengan meloloskannya karena Abdullah dikenal sebagai orang dekat dan berada dalam satu partai bersama Tauhid yang dianggap mendapat dukungan dari sang walikota. Begitupun dengan timsel yang barangkali dianggap masyarakat merupakan para akademisi yang dekat dengan walikota, dimana orang-orang tersebut sebelumnya telah banyak bekerja sama dengan Tauhid, mulai dari dilibatkan sebagai tim pembuat RPJMD, tim assesmen, hingga sekarang timsel.
Dalam prinsip lain, komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi karena komunikasi tidak tumbuh dalam ruang yang hampa. Dalam konteks ini bisa jadi sebelumnya sebagian publik sudah menduga kalau Abdullah bakal diloloskan oleh timsel, mengingat pengalaman sebelumnya jabatan-jabatan seperti ini sangat mungkin diberikan kepada tim sukses, apalagi di Malut tidak terlalu terdengar orang ramai mencermati fenomena kerja para timsel.
Sementara pada prinsip lainnya, komunikasi memiliki dimensi isi dan hubungan, yang artinya tidak selamanya orang memperhatikan isi komunikasi karena terkadang orang lebih melihat dimensi hubungan ketimbang pesannya. Dalam konteks ini, masyarakat sudah tidak melihat kualitas Abdullah secara obyektif terlepas dari posisi dia sebagai pengurus partai.
Namun publik lebih melihat kedekatannya dengan walikota secara subyektif yang menimbulkan sikap prasangka dari publik. Begitu juga dengan posisi timsel yang mungkin saja bekerja sudah secara obyektif tapi karena dianggap memiliki “kedekatan” dengan walikota maka hasil kerjanya diragukan. Jadi mencermati relasi-relasi subyektif antara walikota, anggota timsel, dan Abdullah Bandang, maka sangat mungkin itu menjadi alasan publik mencurigai kelulusan Abdullah disebabkan intervensi dari walikota dan anggota timsel. Bagaimanapun, penilaian tersebut tidak terlepas dari persepsi masyarakat terhadap ketiga pihak tersebut, karena persepsi adalah inti dari komunikasi.
Mungkin keadaan tidak akan segaduh ini kalau saja persepsi publik terhadap ketiga pihak di atas cukup positif. Sebab sebelumnya kemungkinan fenomena- fenomena seperti ini sudah terjadi, baik di. Kota. Ternate maupun kabupaten lainnya di Malut, akan tetapi reaksi publik tidak seramai ini karena tingkat hubungan dengan aktor-aktor yang terlibat di dalamnya tidak terlalu berjarak dengan kebanyakan masyarakat.
Sebagaimana teori NEV (nonverbal expactancy of violations theory) yang asumsi dasarnya beranggapan bahwa kita cenderung beraksi lebih keras terhadap orang yang melakukan pelanggaran harapan nonverbal terhadap kita, apalagi orang yang melakukan pelanggaran memang orang yang tidak kita sukai. Tapi sebaliknya kita lebih cenderung bersikap lebih lunak terhadap pelanggaran yang dilakukan orang yang kita sukai atau simpatik. Contoh, seorang gadis cantik akan risih bahkan terganggu kalau ada seorang pria asing berdiri tepat dibelakangnya dengan jarak yang sangat dekat, apalagi kalau pria tersebut bertampang agak seram.
Tapi sikapnya akan sedikit berbeda, kalau laki-laki asing tersebut memiliki wajah yang tampan dan sikap yang simpatik. Jadi intinya masyarakat memiliki interpretasi sendiri terhdap realitas yang dihadapinya dan kita tidak dapat mengontrol persepsi orang lain terhadap perilaku kita, sekalipun kita berulangkali mengatakan akan bersikap jujur dan profesional. Keadaan menjadi lebih tidak pasti setelah masyarakat mendapat kesan partai-partai pengusung Tauhid mengalami keterbelahan atau tidak solid, baik di kubu Nasdem maupun PKB.
Alhasil, sekarang sepertinya kita mengalami fungtuasi komunikasi, dimana kita begitu sulit mencari ujung pangkal dari kekisruhan ini, apakah realitas di kota yang sudah terlalu gaduh yang membuat pihak Tauhid menjadi tidak komunikatif atau karena pihak walikota yang tidak merangkul atau kurang komunikatif yang membuat prasangka masyarakat terhadap walikota yang menimbulkan kegaduhan? Sepertinya kondisi ini tidak terlepas dari rentetan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Wallahualam.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!