Karena itu, komunitasnya berinisiatif melakukan penimbunan menggunakan material yang diambil dari kawasan Trans SP 4. “Ini bentuk kesadaran kami sebagai pengguna jalan. Tapi kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan perusahaan,” kata Dani, baru – baru ini.
Ia menegaskan, jalan tersebut merupakan jalur vital dengan intensitas lalu lintas tinggi, baik oleh masyarakat maupun karyawan industri. Namun hingga kini, tanggung jawab perbaikan terkesan tidak jelas.
“Seolah saling lempar. Padahal ini jalur penting dan sudah banyak memakan korban,” ujarnya.
Fenomena ini menambah daftar panjang persoalan infrastruktur di kawasan industri tambang, di mana aktivitas ekonomi berskala besar tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan dan fasilitas dasar bagi warga sekitar.
Di Dukulamo, jalan berlubang bukan sekadar persoalan teknis. Ia menjadi simbol ketimpangan antara kekayaan yang diambil dari perut bumi dan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat di atasnya. (RJ/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!