Kondisi lebih memprihatinkan terlihat pada komponen lain-lain PAD yang sah. Realisasi baru menyentuh Rp 364,362 juta atau hanya 2,63 persen dari target Rp 13,837 miliar.
Lebih jauh lagi, pada pos hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, belum ada realisasi sama sekali. Dari target Rp 3,570 miliar, capaian masih berada di angka nol persen hingga akhir triwulan I.
Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan aset daerah belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan.
Rendahnya capaian pada sejumlah komponen PAD menunjukkan perlunya strategi yang lebih agresif dan inovatif dari pemerintah daerah. Optimalisasi potensi pajak, peningkatan efisiensi retribusi, serta pemanfaatan aset daerah menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan pada triwulan berikutnya.
Pemerintah Kota Ternate diharapkan tidak hanya mengandalkan sektor pajak, tetapi juga mampu menggali sumber-sumber pendapatan baru guna memperkuat kemandirian fiskal daerah.
Dengan capaian yang masih di bawah 20 persen hingga Maret, tantangan ke depan tidak ringan. Pemerintah daerah harus mampu mempercepat realisasi pendapatan tanpa mengabaikan aspek transparansi dan akuntabilitas.
Triwulan II dan III akan menjadi penentu apakah target ambisius PAD tahun 2026 dapat tercapai, atau justru kembali meleset seperti kekhawatiran yang mulai muncul sejak awal tahun. (RFN/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!