Ternate, Maluku Utara – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Babullah Ternate melaporkan bahwa potensi cuaca ekstrem di wilayah Maluku Utara masih akan berlangsung setidaknya hingga satu minggu kedepan.
Ketua Tim Kerja Analisis Data dan Informasi BMKG Ternate, Zaky Alin Nuary, menjelaskan bahwa hingga hari ini, hampir seluruh wilayah di Maluku Utara masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
“Baik itu di wilayah Morotai, Halmahera Barat, Halmahera Utara, Ternate, Tidore, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, dan lainnya. Artinya, hampir merata di seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara,” ujar Zaky saat dihubungi Haliyora.id, Rabu (8/10/2025).
Menurut Zaky, khusus untuk Kota Ternate, cuaca ekstrem diperkirakan akan berlangsung hingga Kamis (9/10), sementara wilayah lain masih akan terdampak hingga satu minggu kedepan.
Ia juga menjelaskan kondisi angin yang cukup kencang selama beberapa hari terakhir. “Sejak kemarin kami mencatat kecepatan angin mencapai 50 km per jam. Hari ini mulai menurun, namun masih tergolong kencang dengan kecepatan sekitar 45 km per jam. Diperkirakan angin akan terus melemah secara bertahap dalam beberapa hari kedepan,” tambahnya.
Sementara itu, potensi gelombang tinggi masih terpantau di beberapa wilayah perairan. “Hari ini, gelombang tinggi berpotensi terjadi di wilayah Loloda, Morotai, dan Batang Dua dengan ketinggian mencapai 2 meter. Untuk wilayah seperti Kota Ternate dan Sofifi, kondisi gelombang mulai menurun, dengan tinggi gelombang berkisar 1,5 meter,” ungkapnya.
Terkait fenomena gelombang pasang yang terjadi di pesisir Ternate dan Jailolo pada hari sebelumnya, Zaky menjelaskan bahwa hal tersebut dipicu oleh fase supermoon, yaitu bulan purnama yang berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi.
“Supermoon menyebabkan pasang air laut yang lebih tinggi dari biasanya. Namun, karena fase supermoon sudah lewat, maka kondisi gelombang pasang saat ini mulai menurun,” jelasnya.
Zaky menambahkan, cuaca ekstrem yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh pembentukan siklon tropis di Samudra Pasifik, dekat wilayah Filipina. Meskipun cukup jauh dari Indonesia, dampaknya masih terasa signifikan di Maluku Utara.
“Fenomena siklon tropis ini biasanya muncul sejak bulan Juli hingga November. Jadi, hingga bulan November nanti, cuaca di Maluku Utara masih akan berada dalam bayang-bayang pengaruh siklon tropis yang bisa menyebabkan perubahan cuaca secara tiba-tiba,” terangnya.
Karena itu, BMKG menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada. Sepanjang tahun 2025, wilayah Maluku Utara diperkirakan tidak mengalami musim kemarau, sehingga seluruh bulan didominasi oleh musim hujan. Masyarakat perlu mengantisipasi kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, atau gelombang tinggi,” tutup Zaky. (RFN/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!