Lebih lanjut, Abubakar mengakui bahwa saat ini Maluku Utara belum memiliki data yang kuat untuk mengidentifikasi penyebab pasti dari fenomena ini.
“Kami belum mendapatkan data akademik yang memadai untuk menganalisis apakah ATS dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sebaran sekolah, atau budaya masyarakat,” ujarnya.
Abubakar mengemukakan, Gubernur Maluku Utara telah mengambil langkah konkret untuk menanggulangi masalah ini dengan menerapkan program sekolah gratis sebagai upaya untuk menurunkan angka putus sekolah, meskipun hal ini juga sangat tergantung pada faktor ekonomi. “Kedepannya, kita perlu data yang lebih baik agar dapat melakukan intervensi yang tepat,” tegasnya.
Abubakar juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah kabupaten/kota untuk menciptakan program yang mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap pendidikan. Salah satu rencana yang sedang dibahas adalah pembentukan sekolah terbuka yang masih dalam tahap konseptualisasi.
“Harapan kami agar semua pemangku kepentingan daerah dapat berkontribusi dalam menurunkan angka putus sekolah melalui inisiatif nyata,” tutupnya. (RS/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!