Sementara itu, Ricky Irianto, PIC UGBM Maluku Utara, mengaku bahwa manajemen sebenarnya mampu membayar gaji para tenaga kerja, namun semua data gaji berasal dari SPX Ekspres. Ia menjelaskan bahwa ada kendala dalam proses pengiriman data gaji kepada vendor, yang menyebabkan keterlambatan pembayaran. “Masalah ini bermula dari audit yang menemukan karyawan yang melakukan tindakan penipuan, dan setelah masalah tersebut ditangani, data klaim karyawan baru muncul namun dinilai tidak sesuai,” papar Ricky.
Dia juga mengakui bahwa permasalahan yang merugikan karyawan saat ini berasal dari kesalahan pihak perusahaan dalam pengelolaan data dan pemutihan yang dilakukan secara sepihak.
Sebagai langkah sementara, gudang SPX Ekspres akan ditutup hingga ditemukan solusi terbaik. “Ini bukan berarti kami menghambat operasi perusahaan, melainkan mendorong adanya tanggapan serius dari pimpinan kedua perusahaan,” pungkas Ghifari. (Mg01/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!