Keterbatasan ini seharusnya tidak terjadi di rumah sakit rujukan kabupaten, apalagi untuk layanan vital seperti CT-Scan yang penting bagi diagnosis luka otak kritis.
Masalah ini jelas mencerminkan buruknya pengelolaan fasilitas kesehatan. Sumber internal yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa permasalahan berkaitan dengan pengelolaan anggaran rumah sakit yang amburadul. Dana yang cukup besar dialokasikan setiap tahun, namun kenyataannya menguap begitu saja tanpa hasil nyata. Sementara kebutuhan mendesak seperti stabilisasi listrik dan perawatan medis terus terabaikan.
“Anggaran setiap tahun cukup besar, namun tidak ada komitmen serius untuk memastikan fasilitas berfungsi dengan baik,” ungkap sumber tersebut.
Kegagalan seperti ini menunjukkan janji dan lemahnya pengawasan dari pimpinan RSUD Labuha, dr. Titin, yang seharusnya bertanggung jawab atas perencanaan dan penggunaan anggaran. Kini, publik menuntut transparansi mengenai penggunaan dana yang diterima serta pertanggungjawaban atas buruknya pelayanan.
Keluarga pasien RI menyampaikan kekhawatiran mendalam akan keselamatan pasien dan mendesaknya tindakan cepat dari manajemen sakit rumah serta pemerintah daerah. “Ini soal nyawa manusia, bukan sekedar masalah alat atau teknis. Kami mendesak RSUD Labuha dan Dinas Kesehatan untuk segera memperbaiki fasilitas dan memberikan pelayanan yang layak,” jelas salah satu anggota keluarga dengan nada kecewa dengan pelayanan yang diterima.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!