Pulau Morotai, Maluku Utara – Menjelang 100 hari kerja pemerintahan Rusli Sibua dan Rio Cristian Pawane (Rusli-Rio), puluhan mahasiswa Universitas Pasifik (Unipas) Morotai yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Aksi Rakyat Tertindas (SPARTAN) menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Pulau Morotai, Selasa (3/6/2025).
Dalam aksi tersebut, massa membawa spanduk bertuliskan “Pemda dan Pertamina Berselingkuh, Masyarakat Waringin Jadi Korban” sambil berorasi menggunakan mobil pikap dan sound system. Mereka mengecam sejumlah kebijakan Pemerintah Provinsi dan Pemda Morotai, terutama terkait rencana penetapan hutan Morotai sebagai lokasi latihan militer.
Koordinator Aksi, Aril Baba, menegaskan bahwa SPARTAN menolak keputusan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang menetapkan hutan Morotai sebagai area latihan militer. Ia menilai keputusan tersebut tergesa-gesa dan tidak melibatkan pemerintah daerah maupun DPRD Pulau Morotai.
“Keputusan ini diambil tanpa diskusi terbuka dan tidak ada kajian akademik yang melibatkan masyarakat atau lembaga lokal. Ini bukan saja tidak demokratis, tapi juga berpotensi memicu konflik sosial,” ujarnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!