Saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (3/6/2025), Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Ternate, Safia M. Nur, berbicara dengan nada pelan namun tegas, seolah menimbang setiap kata. “Untuk bisa mendapatkan akreditasi A, minimal kita harus punya 30 ribu judul buku. Sekarang baru 14 ribu. Kita masih di B,” tuturnya, seakan menyampaikan bahwa angka-angka bisa memuat perasaan.
Safia mengungkapkan, perpustakaan saat ini masih menumpang di dalam gedung kantor Dispersip. Tidak ada ruang sunyi yang dikhususkan untuk membaca, tak ada pula ‘sayap’ tenang tempat anak-anak bisa mengenal dunia lewat dongeng. “Di mana-mana, perpustakaan itu punya gedung sendiri. Kita masih menyatu dengan kantor. Itu menyulitkan pengembangan layanan,” ucapnya, sembari menegaskan pentingnya ruang yang layak bagi sebuah lembaga ilmu.
Ia menambahkan, harapan baru mulai digantungkan pada lahan reklamasi pantai Kelurahan Kalumata, Kecamatan Ternate Selatan. Proses pengesahan dan persetujuan sudah dilakukan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kota Ternate. Namun, seperti sering terjadi dalam rencana pembangunan, realisasi masih bersandar pada angin kebijakan pusat dan keterbatasan anggaran daerah.
Kata orang, buku adalah jendela dunia. Tapi jendela itu tak mudah dibuka ketika kuncinya begitu mahal. Anggaran pengadaan buku yang hanya berkisar Rp 90 juta hingga Rp100 juta per tahun jelas tak sebanding dengan harga satu buku kedokteran yang bisa mencapai Rp 5 juta. “Dan kami tak bisa hanya beli satu buku. Minimal tiga per judul,” jelas Safia lirih.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!