Meski begitu, ketika ditanya kapan perbaikan jembatan antar dua pulau ini dilakukan, Tauhid belum dapat mengungkapkannya. “Kalau semua fokus pada tahun 2025, terus tahun 2026 kita buat apa,” jawabnya singkat.
Sebagai informasi, jembatan penghubung antara kedua pulau ini menjadi salah satu dermaga alternatif bagi para pedagang asal Tidore termasuk mahasiswa dari Kelurahan Cobo, Tidore Timur yang berkuliah di Ternate. Mereka biasanya menggunakan transportasi laut untuk pulang pergi kuliah. Adapun biaya yang dirogoh para mahasiswa per bulannya mencapai Rp 350 ribu per orang.
Dari pengakuan para juragan kapal motor kayu yang biasanya melayani penumpang Ternate-Tidore di jembatan ini, mereka mengungkapkan bahwa jembatan tersebut dibangun dengan swadaya dari warga. Untuk melayani rute antar kedua pulau ini, penumpang maupun juragan longboat tak dikenai retribusi sepeserpun.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!