Menurut Faisal, berbicara soal desa wisata yaitu bagaimana berbicara terkait kesadaran, makanya dalam pengolahan desa wisata itu harus dilibatkan juga pemerintah desa, masyarakat dan para pengelola wisata tersebut.
“Apalagi pemerintah desa tidak berpartisipasi bagaimana potensi yang ada di desa bisa tergarap dengan baik, atau bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Untuk itu, kegiatan ini peserta akan dilibatkan langsung turun ke desa Galo Galo besok hari. Karena di Galo Galo sudah masuk dalam kategori penilaian adwi. Jadi di Galo Galo itu secara perangkat mau pun kelembagaan yang sudah lengkap dalam pengolahan desa wisata. Bahkan Desa Galo Galo mewakili Kabupaten Pulau Morotai masuk dalam usulan lomba ADWI di Kementerian Pariwisata,” ujarnya.
Faisal menambahkan, pada bulan Maret lalu telah diselenggarakan anugerah desa wisata tahun 2023. Dari 7.275 total jumlah desa wisata di Indonesia, telah terjaring lewat website Janesta yaitu sebanyak 4.573 desa wisata yang mendaftar di adwi 2023. Sementara Maluku Utara masuk dalam 500 besar nominasi anugerah desa wisata tahun 2023 yaitu desa wisata Akebay Kota Tidore Kepulauan, Desa Wisata Leilei Guraici di Kabupaten Halmahera Selatan, dan Desa Wisata Galo Galo di Kabupaten Pulau Morotai.
“Dari 300 wisata, Desa Galo Galo tidak masuk, yang masuk hanya dari 2 nominasi yaitu Akebay dan Leilei Guraici. Sehingga di final 75 besar, Maluku Utara tersisa desa wisata Akebay, ini merupakan catatan kita bersama kedepan kolaborasi semua sektor agar anugerah desa wisata tahun 2024 Kabupaten Pulau Morotai masuk final 75 besar lagi,” tandasnya. (RF/PN-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!