Pesantren Hidayatullah jadi Tempat Pembinaan Anak Kecanduan Lem Eha-Bond

Ternate, Maluku Utara- Dinas Pendidikan Kota Ternate berencana membuat tempat pembinaan siswa yang kecanduan lem Eha-bond.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Ternate, Isman Do Idris kepada Haliyora di Kantor Wali Kota Ternate, Kamis (23/12/2021).

Isman mengatakan, Pasantren Hidayatullah akan dijadikan  tempat karantina siswa penghisap lem eha-bond untuk dilakukan pembinaan.

“Pasantren Hidayatullah ditunjuk agar anak-anak dapat dibekali dengan pendidikan agama sekaligus dilakukan rehabilitasi mentalnya supaya menjadi generasi yang diharapkan. Jadi kalau sudah selesai rehabilitasi barulah mereka kembali masuk sekolah seperti biasa,” ujarnya. 

Isman mengakui, bahwa selama ini para siswa juga sudah mendapat pembinaan mental dan karakter yang dilakukan pihak sekolah  pada setiap hari jum’at. Upaya-upaya pihak sekolah juga sudah cukup maksimal untuk membentuk mental dan karakter siswa dengan baik melalui banyak pembelajaran, jadi kalau kemudian ada siswa yang terlibat dalam prilaku menyimpang, maka hal itu harus menjadi tanggungjawab kita bersama untuk memperbaiki mereka,” imbuhnya.

BACA JUGA  BPBD Halsel Gelontorkan Rp 33 Miliar di APBD-P untuk 6 Kegiatan 

Isman menyebutkan, sesuai data yang ada, sebanyak 67 anak di bawah umur menggunakan lem memabukkan itu, dan dua diantaranya adalah siswa dari salah satu SMP swasta di Kota Ternate.

“Maski sebagian besar anak-anak yang menhisap lem itu tidak sekolah lagi, tapi ada siswa yang termasuk di dalamnya, sehingga pihak sekolah dan Dinas Pendidikan tidak akan lepas tangan dari tanggungjawab pembinaan. Lagi pula anak-anak itu masih di bawah umur yang mestinya masih usia sekolah,” ujar Isman.

BACA JUGA  Arena MTQ Halsel Diporak-Porandakan Angin

Isman berharap, bukan hanya pihak sekolah dan Dinas Pendidikan saja yang melakukan pembinaan, namun semua komponen harus mengambil peran dalam pembinaan generasi muda itu. “Sebab sesuai data, anak-anak di bawah umur yang menghisap lem itu rata-rata broken home, lantaran orang tua mereka sudah pisah sehingga tidak terkontrol dengan baik, lagi pula mereka juga sudah putus sekolah seingga sudah di luar kontrol dan tanggungjawab pihak sekolah,” pungkasnya. (Arul-1)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah