Halsel, Maluku Utara- Puluhan guru Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Labuha menggelar aksi menuntut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Propinsi Maluku Utara mencopot Marsumi dari jabatan selaku Kepala Sekolah (Kepsek) SLBN Labuha.
Aksi itu dipicu lantaran Marsumi selaku Kepsek SLBN Labuha dinilai tidak mampu mengelola Dana Bantuan Sekolah (BOS), juga dianggap lemah dalam penataan menejemen sekolah.
Dalam aksi yang berlangsung kurang lebih satu jam itu, selain menyampaikan tuntutan mereka, para guru juga meminta Kepsek Marsumi hadir dan hering sekaligus mempertanggungjawabkan pengelolaan dana BOS SLBN. Tak hanya itu, pada aksi tersebut juga para guru melakukan pemalangan ruangan kepala sekolah.
Nurlina, mantan bendahara SLB Negeri Labuha yang turut dalam aksi itu menuturkan, bahwa aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi para guru Honor Daerah (Honda) Provinsi untuk menyelamatkan murid sekolah SLBN Labuha. “Dimana semenjak pergantian kepsek tak ada lagi aktifitas belajar mengajar di SLBN Labuha ini,” ungkapnya saat diwawancarai Haliyora.id di halaman sekolah, Kamis, 2 September 2021.
Dijelaskan Nurlina, sejak Marsumi diberikan SK Kepala Sekolah dari Dikbud Pemprov Malut menggantikan Harun Ahmad pada bulan Maret 2021 lalu, hingga bulan Agustus tak ada aktifitas belajar mengajar di SLBN Labuha. Bahkan sambung Nurlina, para guru honor pun tak diberikan surat tugas untuk mengajar, gaji pun baru diserahkan Rp 500 ribu per orang.
“Jadi selama Marsumi menjabat Kepsek, PTT dan honorer tidak diberikan surat tugas melaksanakan tugas mengajar, sehingga kami datang di sekolah tidak tau mau buat apa, sekarang juga tidak ada proses belajar mengajar,” terangnya.
Lebih lanjut mewakili aspirasi guru PTT dan Honorer, Nurlina meminta Marsumi menuntaskan gaji mereka. Ia juga mendesak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara segera mencopot Marsumi dari jabatan Kepsek SLBN Labuha dengan alasan tidak pantas memimpin sekolah.
“Kalo bisa Dikbud Provinsi copot jabatan Marsumi, siapa pun yang ganti kami terima,” tandas Nurlina disetujui para guru PTT.
Disebutkan Nurlina, sebanyak 90 siswa sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Labuha yang tercatat dalam dapodik terdiri dari SD, SMP dan SMA terancam pindah sekolah karena tidak ada aktifitas belajar mengajar “Orang tua siswa sudah berulang kali datang mengadu ke sekolah mau pindahkan anak mereka dari SLB ini,” tuturnya.
Ditambahkannya, angaran dana bantuan sekolah yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RKAS) sudah dicairkan sebesar Rp 152 juta, namun tidak ada aktifitas belajar mengajar, gaji PTT pun hanya dibayar Rp 500 ribu, bahkan kegiatan sekolah juga tidak dilaksanakan.
“Torang PTT pe gaji empat bulan baru terima satu kali sebesar Rp 3 juta lebih, namun torang empat bulan kemarin hanya terima 500 ribu per orang,” pungkasnya.
Diketahui, guru SLBN labuha sebanyak 27 orang terdiri dari PTT 13 orang, honor lepas 3 orang dan PNS 11 orang. (Asbar-*)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!