Sanana, Maluku Utara- Ismail Kedafota, pria asal Desa Malbufa Kecamatan Sanana Utara Kabupaten Kepualaun Sula, mendapat ide baru tentang cara budidaya rumput laut menggunakan sistim rakit apung.
Ismail mengaku ia terinspirasi untuk membuat rakit apung dari menonton You Tube.
Katanya, ia melihat di You Tube cara budidaya rumput laut menggunakan sistim rakit yang dibuat masyarakat Morotai dan Halbar.
“Saya lihat di You tube teman-teman di Morotai dan Halbar bikin rakit apung untuk budidaya rumput laut. Dari situ saya terinspirasi untuk coba buat di Malbufa, maka saya ajak masyarakat untuk kami buat bersama,” cerita Ismail kepada haliyora, Sabtu (31/07/2021).
Dikatakan, sekarang ini ia bersama masyarakat sudah membuat 20 rakit apung, dan 10 diantaranya siap dipasang hari ini, Sabtu (31/07/2021).
“Kita sudah bikin 20 rakit terapung untuk budidaya rumput laut. Sebanyak 10 rakit akan dipasang (diturunkan) hari ini (Sabtu),” ujarnya.
Meski begitu, Ismail mengaku rakit apung itu dibuat sebagai uji coba untuk budidaya rumput laut.
“Selama ini sudah banyak warga di Desa Bajo, Pohea dan Fukweu melakukan budidaya rumput laut, namun agak beda sistimnya dengan yang kami buat sekarang. Mereka buat dengan sistim pasak, yakni tanam tiang lalu bentangkan tali, kemudian bibit rumput laut diikatkan ke tali itu. Beda dengan yang saya buat sekarang. Saya pake sistim rakit apung. Ini hanya uji coba, mudah-mudahan berhasil,” imbuh Ismail.
Menurut Ismail, ia mencoba membudidayakan rumput laut dengan sistim rakit apung karena kondisi laut di lokasinya berbeda dengan lokasi di beberpa desa yang ia sebutkan.
“Kondisi laut di lokasi saya tidak sama dengan yang ada di tiga desa itu, sehingga ini hanya uji coba, kalau misalnya berhasil bisa dijadikan contoh untuk memberdayakan masyarakat pesisir, sehingga ke depan rumput laut bisa dijadikan sumber pendapatan masyarakat, khusus Kecamatan Sanana Utara,” harapnya.
Ismail menyebut budidaya rumput laut dengan sistim rakit apung merupakan sistem modern yang selama ini kurang diperhatikan Pemda.
“Rakit apung ini sebetulnya cara modern untuk budidaya rumput laut, namun selama ini kurang mendapat perhatian pemerintah. Kalau mau lebih bagus kan mestinya pake pipa, tapi karena harga pipa mahal, sehingga kita gunakan bahan-bahan lokal yakni bambu sebagai pengganti pipa. Ya, kita uji coba, kalau berhasil kan lebih irit,” imbuhnya. (Sarif-1)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!