Demam Berdarah di Haltim Meningkat, Renggut Dua Nyawa

Maba, Haliyora

Penyakit Demam Berdarah (DBD) melanda Kabupaten Halmahera Timur, khususnya di Kecamatan Wasile. Sepanjang bulan januari hingga minggu ke dua bulan maret 2021 (Minggu ke 10-11)  tercatat 31 kasus DBD.

Hal itu diakui kepala Dinas Kesehatan Haltim, Dr. Vita Sangaji saat diwawancarai Haliyora di ruang kerjanya, Selasa (23/03/2021).

Vita mengatakan, sebagaimana data yang diperoleh dari laporan W1 Sistem Kewaspadaan Dini (SKD), kasus DBD sudah mulai terjadi di bulan Januari  dan Februari 2021, dan meningkat pada Maret ( minggu ke 11)

“Total dari Januari sampai maret mingu ke 11 sesuai data W1 ada 31 orang. Dengan rincian,  2 orang diantaranya meninggal dunia, 7 dirujuk, 22 orang dirawat  di Puskesmas. Sedangkan untuk yang dirawat itu, 11 orang sudah dinyatakan sembuh,” jelas Vita.

Dikatakan, akibat tingginya kasus DBD pada minggu ke 10 dan 11, atau pada bulan Maret tahun ini, pemerintah Provinsi Maluku Utara menetapkan kasus BDB di Haltim sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

BACA JUGA  Kadinkes Ternate Beri Warning : Waspadai DBD, Sudah Renggut Satu Nyawa Balita

“Karena di minggu ke 10 dan 11 itu sangat parah sehingga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Malut menetapkan sebagai KLB,” ungkap Vita.

Untuk meminimalisir potensi peningkatan DBD, pihaknya sudah melakukan langkah cepat sejak ditemukan DBD di Kecamatan Wasile, dengan menurunkan tiga tim sekaligus bersama ke Puskesmas Wasile untuk  melakukan kegiatan pengasapan atau vogging, pemeriksaan jentik, bakti sosial bersama masyarakat dan pemerintah Kecamatan.  “Ternyata saat kita lakukan pemeriksaan jentik, kita temukan 80 persen nyamuk Aides Aigepty,” ungkapnya.

Vita menambahkan, untuk kecamatan Wasile sendiri kasus yang paling dominan terjadi di Desa Batu Raja, Bumi Restu dan Cemara jaya, sementara sisanya ditemukan di beberapa desa lain dan juga kecamatan Wasile Timur.

BACA JUGA  Ada 6 Kasus Baru DBD di Kota Ternate, Warga Kudu Waspada

“Karena saat ini musim hujan, masyarakat diminta menjaga lingkungannya sehingga tidak ada tempat nyamuk bertelur dengan cara menerapkan pola hidup 3M plus, yakni menutup, menguras dan menguburkan, serta pake kelambu dan autan, karena kalau pengasapan saja hasilnya tidak maksimal, sebab hanya membunuh nyamuk dewasa, ini yang penting,” imbuhnya.

Sementara itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan  kementrian Kesehatan, maupun pemerintah provinsi untuk ditentukan tim pendamping kementrian guna membantu puskesmas hingga meminimalisir peningkatan DBD di Haltim.

“Kita tetap pantau terus, dan saat ini kita intensif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, kita berharap dengan peran masyarakat kasus BDB di Haltim  bisa dicegah atau potensi peningkatannya bisa ditekan,” pungkasnya. (RH-1)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah