Ini Penjelasan Ahli Geologi Tentang Longsor di Kota Ternate

Ternate, Haliyora

Beberapa hari yang lalu kota Ternate diguyur hujan lebat disertai angin kencang mengakibatkan banyak pohon yang tumbang, bahkan terjadi longsor di beberapa tempat seperti Fora Madiahi, Kastela, Kampung Makassar, Takome, Hiri dan Pulau Moti.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun tercatat ada tiga rumah warga di Kampung Makassar rusak ringan.

Ketua Ahli Geologi Indonesia Wilayah Provinsi Maluku Utara Dedi Arif saat di wawancarai Haliyora melalui telpon, Jum’at (4/12/2020) mengatakan, terjadi longsor jelas pasti ada pemicunya, seperti curah hujan yang tinggi dan bisa juga kemiringan lereng yang sangat curam dan batuan penyusunnya dan lain-lain.

Menurut Dedi, karakteristik tanah di Kota Ternate rata-rata relatif tidak stabil, dalam artian banyak endapan dari tanah gunung yang terkikis saat gunung Gamalama meletus. Dan endapan tanah dari Gunung Gamalama itu sangat tebal di permukaan (tanah liat) atau batu lempeng.

“Karena batu lempung ini tersusun tebal di permukaan tanah, sehingga memiliki sifat paling mudah menyerap air. Akan tetapi batu ini juga tidak mudah meloloskan air, karena dia juga dianggap menyimpan air cukup lama di dalam, maka dengan intensitas curah hujan yang tinggi, air tadi tidak bisa terloloskan. Air yang ada di dalam batu dan tersimpan di dalam batuan yang tebal tadi, dengan kemiringan lereng maka otomatis secara perlahan akan memicu  pergerakan yang tidak terasa. Ditambah pula dengan beban lain di atasnya seperti jalan, bangunan dan lain-lain, maka mudah terjadi longsor,” jelasnya.

BACA JUGA  Kendaraan yang Parkir di Depan Pasar Higienis Ternate Kena Tilang

Sementara, lanjut Dedi, keterbatasan ruang di Kota Ternate mengakibatkan  pengembangan pembangunan hanyah dua arah, yakni  kalau bukan ke Timur (laut) atau ke Barat (arah ke pegunungan) yang punya topografi dan kemiringan lereng tertentu dan sangat berfariasi.

Dedi menyebut, pada tahun 2018 juga terjadi longsor di kelurahan Tabona yang memakan korban jiwa. Ini, kata dia, hendaknya dijadikan pelajaran dan perharian agar membangun atau pengalihan fungsi tata guna lahan yang tidak sesuai dan tidak berbasis data resikonya sangatlah besar.

“Jangan sampai daerah yang tadinya rawan longsor karena tingkat kemiringannya ditambang (diratakan),  kemudian langsung bangun rumah tanpa ada kajian tertentu secara sains. “siapa bilang tidak bisa di bangun, hanya saja tata kelola dalam membangun itu harus disesuaikan dengan karakteristik lahan yang ada, agar mengurangi resiko longsor tadi,” jelasnya.

BACA JUGA  Wakil Ketua DPRD Malut Kuntu Daud Diperiksa Kejati 5 Jam, Keluar Lewat Samping, Ada Apa?

Dia menghimbau masyarakat yang bermukim di sekitar lereng gunung agar selalu waspada bila curah hujan yang tinggi dan durasinya lama.

“Dalam kondisi cuaca demikian warga harus mengamati dan melihat perubahan di sekitar, karena longsor memiliki banyak tipe, ada longsor hanya merayap tanpa merasakan tanah  bergerak, dan ada juga longsor dengan pergerakan tanah yang begitu cepat,” imbuhnya.

Menurut dia, yang paling berbahaya adalah longsor yang sifatnya merayap, karena pergerakannya tidak diketahui. Maka jika kondisinya tidak memungkinkan segera lakukan pengungsian sementara secara mandiri, karena evakuasi mandiri itu lebih penting daripada menunggu kejadian.

“Satu hal yang penting adalah masyarakat harus terus mengikuti informasi cuaca dari BMKG dan BPBD, karena satu-satunya informasi yang bisa dikeluarkan terkait dengan kebencanaan itu dari lembaga tersebut,” tutup Dedi. (Sam-1)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah