Haliyora.id, Sport – Persib Bandung resmi memastikan diri sebagai kampiun Super League 2025-2026 usai bermain imbang tanpa gol kontra Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (23/5/2026). Satu poin yang diraih skuad asuhan Bojan Hodak cukup untuk mengunci puncak klasemen sekaligus menegaskan dominasi Maung Bandung dalam lanskap sepak bola nasional.
Ini bukan sekadar gelar juara biasa. Persib kini menorehkan sejarah sebagai klub pertama yang mampu mencatatkan hattrick juara di era modern Liga Indonesia. Sebuah pencapaian yang memperlihatkan kesinambungan, kedalaman skuad, dan kematangan sistem yang dibangun dalam tiga musim terakhir.
Di tengah atmosfer GBLA yang penuh tekanan dan ekspektasi, Persib tampil dengan pendekatan yang familiar, agresif, dominan, dan sabar membangun serangan. Beckham Putra Nugraha yang dipercaya mengenakan ban kapten menjadi motor utama permainan. Pergerakannya di half-space dan distribusi progresifnya membuat Persijap dipaksa bertahan sangat rendah sejak menit awal.
Namun, Persijap Jepara datang bukan sebagai pelengkap seremoni. Laskar Kalinyamat menampilkan organisasi bertahan yang disiplin. Carlos Franca memimpin garis pertahanan dengan kompak, memotong koneksi antar lini Persib sekaligus memaksa Federico Barba dan Adam Alis lebih banyak melepaskan percobaan dari lini kedua.
Persib memang mendominasi penguasaan bola dan volume serangan, tetapi efektivitas menjadi persoalan utama. Andrew Jung beberapa kali gagal memaksimalkan ruang di kotak penalti, sementara Ardiansyah tampil luar biasa di bawah mistar Persijap lewat sejumlah penyelamatan krusial.
Babak kedua berjalan dengan pola serupa. Intensitas Persib meningkat, garis pertahanan makin tinggi, dan tekanan dilakukan secara konstan. Bojan Hodak tampak ingin memastikan laga ditutup dengan kemenangan sempurna di hadapan publik Bandung.
Tetapi sepak bola tak selalu membutuhkan kemenangan untuk melahirkan kejayaan. Ketika peluit panjang dibunyikan, skor 0-0 justru menjadi penanda lahirnya era baru Persib Bandung.
Di saat bersamaan, Borneo FC sebenarnya melakukan segala hal yang mereka bisa. Bermain di Stadion Segiri, Pesut Etam menghancurkan Malut United dengan skor mencolok 7-1. Hasil itu membuat Borneo menyamai koleksi poin Persib, yakni 79 angka. Namun, kemenangan besar itu tetap tak cukup.
Persib unggul dalam head-to-head serta selisih gol sepanjang musim, dua elemen yang pada akhirnya menjadi pembeda dalam perburuan gelar paling ketat beberapa musim terakhir.
Bagi Borneo FC, musim ini mungkin akan dikenang sebagai musim nyaris sempurna yang berakhir pahit. Sementara bagi Persib, ini adalah validasi bahwa konsistensi lebih penting daripada ledakan sesaat di pekan terakhir.
Keberhasilan Persib juga menegaskan kapasitas Bojan Hodak sebagai arsitek utama kebangkitan Maung Bandung. Ia bukan hanya membangun tim juara, tetapi menciptakan identitas permainan yang stabil, pressing agresif, sirkulasi bola cepat, dan fleksibilitas struktur menyerang.
Di sisi lain, Malut United menutup musim dengan finis di peringkat keenam. Meski dihajar telak Borneo FC pada laga terakhir, pencapaian tersebut tetap layak diapresiasi mengingat mereka mampu bersaing di papan atas sepanjang musim dan menjadi salah satu tim paling progresif di luar poros tradisional sepak bola Indonesia.
Adapun finis di urutan kedua, Borneo FC, disusul Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, dan di urutan kelima Bhayangkara FC.
Musim 2025-2026 akhirnya ditutup dengan satu kesimpulan besar, Super League kini memiliki penguasa baru. Dan penguasa itu bernama Persib Bandung. (Redaksi)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!