Meski demikian, penurunan yang terjadi pada 2024 menjadi catatan penting untuk evaluasi. Iwan menyebutkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi fluktuasi angka melek huruf, mulai dari akses pendidikan yang belum merata hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Akses pendidikan yang belum merata, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan, serta dampak putus sekolah atau keterbatasan layanan pendidikan nonformal,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan signifikan pada 2025 tidak terlepas dari berbagai upaya yang terus diperkuat oleh pemerintah daerah bersama masyarakat. Langkah tersebut meliputi perluasan layanan pendidikan dasar, penguatan pendidikan nonformal, serta penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih inklusif dan adaptif.
Momentum Hardiknas, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa peningkatan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Literasi, kata dia, merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan berdaya saing di tengah tantangan global yang terus berkembang. (RF/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!