Bobong, Maluku Utara – Suasana Jumat pagi (17/4/2036), di Desa Bobong tampak berbeda. Warga, aparat desa, hingga jajaran pemerintah daerah berkumpul bukan untuk seremoni, melainkan bekerja bersama memungut sampah plastik, membersihkan saluran air, dan merapikan lingkungan yang selama ini luput dari perhatian.
Di tengah aktivitas itu, Wakil Bupati Pulau Taliabu, La Ode Yasir, terlihat turun langsung memimpin aksi. Gerakan Indonesia Bersih yang dipusatkan di Bobong dan Desa Wayo. Ini bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat.
Aksi bersih-bersih juga menyasar area publik dan tempat ibadah, termasuk Masjid Raya Nur Aisyah Bobong dan sejumlah gereja di sekitarnya. Di titik-titik itu, tumpukan sampah plastik dan sedimen yang menyumbat drainase menjadi fokus utama pembersihan.
“Lingkungan kita, terutama di pusat kota seperti Bobong dan Wayo, harus benar-benar bebas dari sampah plastik,” ujar Yasir.
Baginya, kebersihan bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut keselamatan warga, terutama saat musim hujan ketika saluran air yang tersumbat kerap memicu banjir.
Ia menekankan bahwa perubahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran warga menjadi kunci utama. Sampah yang dibuang sembarangan, terutama ke drainase, dinilai sebagai kebiasaan yang harus segera dihentikan.
Pemilihan lokasi kegiatan di sekitar tempat ibadah, menurut Yasir, bukan tanpa alasan. Ia berharap, kedekatan emosional masyarakat terhadap ruang-ruang tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan secara lebih luas.
Gerakan ini, lanjutnya, merupakan bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan ekologi di Pulau Taliabu. Ia pun menginstruksikan perangkat desa dan instansi terkait untuk tidak berhenti pada kegiatan hari itu saja.
Pengawasan rutin dan aksi bersih berkala harus terus dilakukan. Semangat gotong royong yang telah terbangun, kata dia, tidak boleh padam setelah kegiatan usai. “Kami ingin ini tidak sekadar seremonial. Harus berkelanjutan,” ujarnya.
Di antara sapu lidi dan karung sampah yang terisi penuh, terselip harapan sederhana bahwa menjadikan ibu kota kabupaten bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga cerminan lingkungan yang bersih, sehat, dan layak diteladani oleh wilayah lain di Pulau Taliabu. (RHM)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!