Wakil Ketua II Usul Pangkas Anggaran DPRD Morotai Dinilai Bermuatan Politik

Ia juga mengkritik lima pos anggaran yang dinilai non-prioritas dengan total Rp 11,2 miliar, termasuk belanja rumah tangga Setda, medical check-up kepala daerah, serta anggaran protokol dan komunikasi pimpinan.

Sementara itu, anggaran sektor pertanian dan perikanan yang menjadi penopang utama ekonomi masyarakat masing-masing hanya sekitar Rp 5,1 miliar dan Rp 4 miliar. Setelah dikurangi belanja pegawai, dana yang langsung menyentuh masyarakat dinilai sangat minim.

BACA JUGA  Pemkot Ternate Alokasikan Dana Rp 12,5 Miliar untuk Penataan UMKM

“Medical check-up kepala daerah saja Rp 550 juta, lebih besar dari anggaran perikanan untuk masyarakat. Ini tidak masuk akal,” ujar Erwin.

Ia menegaskan bahwa kritik PSI dimaksudkan sebagai bentuk pengawasan terhadap penggunaan uang rakyat. Meski demikian, pimpinan DPRD menilai pernyataan Erwin berpotensi membangun persepsi publik yang tidak utuh terhadap proses penganggaran. Ketua DPRD dan Ketua Fraksi KNN kembali menekankan agar perbedaan pandangan disampaikan secara proporsional dan melalui mekanisme kelembagaan.

BACA JUGA  Didemo Mahasiswa, DPRD Morotai Ambil Sikap

“Jangan menjadikan isu anggaran sebagai panggung politik atau upaya mencari popularitas,” tegas keduanya.

Polemik ini mencerminkan dinamika politik anggaran di tingkat daerah, sekaligus menunjukkan pentingnya konsistensi antara sikap politik di ruang pembahasan dan pernyataan di ruang publik. (RF/Red2)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah