Sofifi, Maluku Utara – Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Provinsi Maluku Utara semakin memprihatinkan. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), ATS mencakup berbagai jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kisaran ATS di Malut mencapai 36 persen. Meski begitu, angka ini masih dibawah Nasional yaitu 60 persen
Mengatasi masalah ini, Gubernur Sherly Tjoanda mengungkapkan bahwa angka anak tidak melanjutkan pendidikan dari tingkat SMP menuju SMA mencapai 30 persen. Salah satu alasannya, menurutnya, adalah pengenaan uang komite di sekolah-sekolah yang dulu masih berlaku.
“Dengan dihapuskannya uang komite, harapan kami adalah agar anak-anak di pelosok daerah bisa kembali bersekolah,” ujar Sherly di depan kantor DPRD, Sabtu kemarin (12/10).
Gubernur perempuan pertama di Maluku Utara itu juga menjelaskan tantangan lain yang dihadapi oleh daerah kepulauan. Di beberapa daerah, sekolah tidak tersedia, sehingga ketika anak-anak ingin melanjutkan pendidikan ke daerah lain, mereka terpaksa harus menyewa tempat tinggal.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!