Mohri menjelaskan kronologi insiden berawal dari sebuah acara pesta rakyat di Desa Penu. Phep (Husen Hamid) yang hadir sekitar pukul 01.00 WIT duduk di pojok panggung sambil memantau situasi lewat ponselnya. Saat itulah, FP (oknum polisi) yang diduga dalam keadaan mabuk, memanggilnya.
“Awalnya klien saya tidak menyangka dipanggil, tetapi setelah dipanggil kembali, ia pun mendatangi FP. Alih-alih dialog, yang keluar justru kata-kata kotor dan makian dari oknum polisi tersebut hingga menyentuh orang tua Phep,” tutur Mohri.
Phep yang tidak terima lantas menanyakan kesalahannya. Sontak FP menuduhnya telah berfitnah. Atas saran orang sekitar yang menilai FP sedang mabuk, Phep memilih untuk pulang ke rumah. Namun, ketegangan tidak berhenti di sana. Beberapa menit setelah Phep tiba di rumah, FP dan keempat terduga pelaku lainnya menyusul. Mereka berteriak-teriak di depan rumah Phep sambil mengucapkan ancaman pembunuhan dan pemukulan, serta berusaha mendobrak pintu rumah milik Phep.
“Mereka berteriak dengan kalimat ancaman seperti ‘potong’, ‘bunuh’, ‘pukul’, dan meneriakkan kata ‘wartawan’. Keadaan ini berlangsung cukup lama dan membuat seluruh penghuni rumah, termasuk perempuan dan anak-anak, ketakutan,” beber Mohri.
Khawatir rumah akan didobrak, Phep terpaksa menyelamatkan diri dengan melompat keluar jendela. Ia kemudian mengamankan diri di rumah seorang guru sebelum berangkat ke Ibu Kota Kabupaten untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Pulau Taliabu.


Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!