Menurut Sherly, rata-rata pasokan bahan pokok berasal dari luar Maluku Utara, termasuk beras. Dengan memproduksi beras lokal maka bisa menutup ketergantungan Malut dari daerah lain.
“Salah satunya adalah bagaimana agar kita bisa memproduksi beras sendiri, karena saat ini baru 15 persen yang diproduksi di Maluku Utara, sementara sisanya 85 persen masih dipasok dari luar daerah. Untuk itu strateginya adalah dengan mengembalikan lumbung pangan, salah satunya sawah yang ada di daerah Subaim Halmahera Timur sekitar 3 ribu hektar yang harus diaktifkan kembali ke 12 ribu hektar,” ujar Sherly.
Sherly menilai, selama ini produksi beras lokal di Subaim cukup rendah hanya 1 sampai 2 ton dalam satu hektar. Untuk itu Pemprov akan menggenjot peningkatan skala produksi dari 8 sampai 10 ton per hektar, dengan menyediakan bibit unggul yang nantinya akan ditanam secara serentak.
“Kita sudah menyediakan 1.500 bibit unggul yang akan mulai ditanam pada bulan September, dan tahun depan 12 ribu hektar akan segera di tangan,” jelasnya.
Selain di Subaim, lanjut Gubernur Sherly, penanaman padi juga akan dilakukan di Kecamatan Kao, Halmahera Utara (Halut), dan di Kecamatan Wairoro, Halmahera Tengah (Halteng).

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!