Sementara itu, untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), data dari Dapodik mencatat sebanyak 225 siswa yang dikategorikan sebagai putus sekolah pada tahun 2024. Namun, menurut Kepala Bidang Pembinaan SMP, Halimah Rahman, angka riil di lapangan jauh lebih rendah.
“Data dari kecamatan hanya mencatat 30 anak yang tidak bersekolah. Untuk SMP Negeri ada 18 siswa, terdiri dari 8 perempuan dan 13 laki-laki. Sementara di sekolah swasta terdapat 12 siswa, terdiri dari 6 laki-laki dan 3 perempuan,” ujarnya.
Halimah menambahkan bahwa penyebab utama anak tidak melanjutkan pendidikan adalah faktor ekonomi dan kondisi lingkungan sosial yang kurang mendukung.
Adapun untuk tahun 2025, Dinas Pendidikan belum bisa memastikan angka putus sekolah karena tahun ajaran masih berlangsung dan proses rekapitulasi data belum dilakukan.
Ketidakakuratan data tersebut di Kota Ternate menjadi perhatian serius, terutama dalam merancang program intervensi pendidikan dan perlindungan hak anak. Diperlukan sinergi antara sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak atas pendidikan yang layak. (RR/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!