Oleh : Mukhtar A. Adam (Ketua ISNU Maluku Utara)
Dalam sejarah bangsa-bangsa, ibu kota adalah lambang kedaulatan dan sentral kekuasaan. Di Eropa dan Amerika, ibu kota dibangun di atas daratan luas yang kokoh dan terkonsentrasi. Tapi Indonesia berbeda, Nusantara adalah negara yang dibentuk oleh pulau-pulau, bukan oleh satu blok daratan yang menyatu. Lalu, mengapa simbol kekuasaan kita harus tetap diam di darat, sementara jiwa bangsa Nusantara bergerak dari pulau menyebrang laut, menyapa pulau
Menyongsong Era Ibukota Bergerak
Gagasan memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan melalui Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah langkah strategis untuk menyebarkan pusat gravitasi pembangunan. Namun, diatas strategi teritorial itu, ada kebutuhan yang lebih mendasar: kebutuhan akan negara yang tidak hanya berpusat, tetapi juga bergerak.
Di sinilah letak pentingnya Kapal Istana Negara. Sebuah kapal kenegaraan multifungsi yang berfungsi sebagai simbol negara, kantor presiden, dan pusat pemerintahan sementara saat melintasi pulau-pulau, menghadirkan negara di setiap pulau, yang terbentang diantara dua benua dan samudera, agar anak bangsa merasakan getaran negara dari kampungnya sebagai perekat kenusantaraan.
Ibu kota tidak lagi sekadar lokasi geografis, tapi juga bisa menjadi institusi bergerak yang hadir langsung di hadapan rakyat, ibukota tidak lagi milik warga Kota, tapi milik warga pulau, ibukota yang menjemput asa di setiap pulau.
Negara Kepulauan Butuh Kepemimpinan yang Mengarungi
Pasal 25A UUD 1945 secara eksplisit menyebut Indonesia sebagai negara kepulauan yang berciri nusantara. Namun hingga kini, praktik kenegaraan kita masih mengandalkan model continental, pusat didesain diam, lalu mendesain rakyat bergerak ke pusat.
Padahal, dengan lebih dari 7.000 pulau berpenghuni, negara seharusnya simbol negara mendatangi rakyatnya, yang tersebar di berbagai pulau bukan sebaliknya. Dan dalam konteks inilah, kapal istana negara menjadi konsep ibu kota maritim yang bisa bersandar di Sabang, Saumlaki, Morotai, Sangihe, Makian, Kayoa hingga Merauke.
Bukan Sekadar Simbol, Tapi Fungsi Negara yang Nyata
Kapal Istana Negara tidak hanya menjadi ikon, tetapi juga:
• Kantor bergerak Presiden RI
• Ruang rapat kabinet lintas pulau
• Panggung pidato kenegaraan di atas laut
• Pusat edukasi maritim dan diplomasi kebudayaan
• Pos komando saat bencana atau krisis kemanusiaan
Dengan desain modern, ramah lingkungan, dan teknologi tinggi, kapal ini menjadi Ibu Kota Bergerak, sebuah sentuhan baru yang menggerakan Presiden Indonesia menyentuh semua pulau Nusantara, dapat menerima tamu negara di berbagai pulau Nusantara, yang menjadi Visi Nusantara
Mengoreksi Asimetri Simbolik dan Kehadiran Negara
Selama ini, simbol kekuasaan negara terlalu Jawa-sentris, terlalu darat-sentris. Ibu kota baru di Kalimantan memang menggeser titik, tetapi belum menggeser logika kekuasaan. Padahal, rakyat Indonesia tinggal tidak hanya di satu pulau, tapi di ribuan titik yang jauh dari pusat. Jika benar kita menganut Wawasan Nusantara, maka kita membutuhkan institusi negara yang bisa menjelajahi ruang nusantara itu secara aktif.
Dunia Akan Belajar dari Indonesia
Gagasan ‘ibukota bergerak’ ini bukan hanya penting untuk Indonesia, tapi juga berpotensi menjadi model global bagi negara kepulauan lainnya: Filipina, Jepang, Fiji, Kiribati, hingga negara-negara Pasifik dan Karibia. Indonesia bisa memimpin gerakan geopolitik baru: ‘Archipelagic States Leadership’ – negara yang memimpin dari laut, bukan hanya memerintah dari darat.
Ibu Kota yang Menyapa, Bukan Hanya Menunggu
Jika negara adalah rumah rakyat, maka rumah itu harus bisa berjalan menjemput rakyatnya. Jika Presiden adalah pemimpin seluruh pulau, maka beliau juga harus punya istana yang bisa bersandar di semua pelabuhan republik ini.
Karena Indonesia bukan hanya tentang satu pusat, tapi tentang banyak pulau yang disatukan oleh laut dan cita-cita.
Kapal Istana Negara adalah masa depan ibu kota negara kepulauan: bukan sekadar bangunan megah, tetapi simbol kekuasaan yang sanggup bergerak, menyapa, dan melayani dari laut ke laut, dari rakyat ke rakyat. ***

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!