Setelah itu, demonstran melanjutkan perjalanan menuju Bundaran Kilometer 40 dan akhirnya tiba di halaman kantor Gubernur. Suasana di sepanjang perjalanan dipenuhi dengan teriakan massa yang menuntut kehadiran Gubernur. Tak cuma itu, bunyi-bunyian dari tiang listrik juga menambah kesan mencekam dari aksi ini.
“Kami meminta penjelasan Gubernur Sherly Tjoanda, apa yang membuat Gubernur berkeinginan agar Sofifi menjadi DOB,” seru Kadir, salah satu orator aksi.
Kadir menegaskan bahwa kedatangan mereka bukanlah sekadar unjuk rasa biasa. Masyarakat adat menegakkan pentingnya adat dan menolak tindakan yang dianggap dapat memecah belah komunitas di Tidore Kepulauan. “Tolong Gubernur harus menghargai adat dan masyarakat Kota Tidore Kepulauan. Kami sangat mencintai negeri ini, jangan mengadu domba masyarakat di Tikep,” tandas Kadir.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!