Sementara, Wakil Ketua II DPRD Kota Ternate, Jamian Kolengsusu, menilai bahwa data BPS tersebut mencerminkan realitas sosial masyarakat Ternate yang kerap merayakan berbagai momen dengan konsumsi besar. “Acara-acara seperti keberangkatan haji, wisuda, hingga pesta pernikahan sering kali menimbulkan euforia yang berdampak pada lonjakan konsumsi, terutama di sektor makanan dan tembakau. Dari hasil analisis saya, sekitar 90 persen laki-laki di Ternate adalah perokok, dan sebagian kecil perempuan juga ikut merokok,” paparnya saat diwawancarai di Gedung DPRD Ternate, Rabu (21/5/2025).
Ia menyayangkan tingginya konsumsi justru tidak berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). “Tingkat konsumsi tinggi, tapi PAD Kota Ternate masih kecil. Ini yang jadi persoalan. Seharusnya daerah dengan konsumsi tinggi memiliki PAD yang besar. Ada apa sebenarnya?” tandasnya.
Olehnya itu, Jamian mendorong Pemerintah Kota Ternate mengkaji ulang untuk mengevaluasi korelasi antara konsumsi masyarakat dan kontribusi terhadap PAD. “Perlu ada evaluasi dan intervensi dari pemerintah. Jika konsumsi tinggi, seharusnya itu bisa dimaksimalkan untuk mendorong pendapatan daerah,” katanya.
Selain itu, ia mengimbau agar DPRD dan Pemerintah Kota Ternate lebih proaktif dalam menyosialisasikan faktor-faktor penyebab inflasi kepada masyarakat. “Masyarakat juga perlu tahu apa yang memicu inflasi agar bisa lebih bijak dalam mengonsumsi. Ini tugas berat yang harus kita atasi bersama,” pungkasnya. (Mg01/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!