Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun (FEB Unkhair) Ternate itu menjelaskan bahwa ketergantungan Kota Ternate terhadap pasokan barang dari luar daerah, baik dari wilayah di Maluku Utara maupun dari luar provinsi, menjadi faktor utama naiknya harga barang dan jasa. “Biaya logistik menjadi komponen penting yang membentuk harga barang di tingkat konsumen,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti pola distribusi barang yang tidak efisien, yang akhirnya menciptakan struktur harga tinggi di pasar Ternate. “Distribusi dari produsen luar ke pedagang besar hingga ke pedagang eceran menyumbang selisih harga yang signifikan, apalagi jika tidak ada pengawasan yang ketat dari pemerintah,” tambahnya.
Menurut pengamat ekonomi Maluku Utara ini, lemahnya kapasitas produksi lokal juga ikut memperburuk kondisi tersebut. Kota Ternate belum mampu memproduksi barang dan jasa kebutuhan pokok secara mandiri, sehingga ketergantungan terhadap pasokan eksternal sulit untuk dihindari.
“Ketergantungan ini berlangsung cukup lama dan belum ditangani secara serius. Sudah saatnya pemerintah daerah merumuskan kebijakan konkret untuk mendorong kemandirian ekonomi, khususnya dalam produksi barang kebutuhan pokok,” tegasnya.
Ia juga merekomendasikan agar pemerintah daerah melakukan intervensi dalam rantai distribusi dan pengawasan harga, khususnya di tingkat eceran, guna menekan kesenjangan harga dan menjaga daya beli masyarakat.
“Tanpa pengawasan harga dan perbaikan jalur distribusi, beban inflasi akan terus ditanggung oleh rumah tangga. Ini berisiko terhadap stabilitas ekonomi lokal,” pungkasnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!