Pertama-tama, “harus memahami liputan di lapangan, mengetahui watak birokrasi, serta harus banyak sabar, yang lebih atas sumber yang sesekali merayu dengan uang, setidaknya kau punya iman independen atas kejujuran dalam mengabarkan informasi.”
Di sebuah kantor dengan tempat duduk yang sudah sedikit rusak, cat dinding yang telah pudar, wartawan pemula, duduk tenang menunggu sumber untuk diwawancarai, dengan kesabaran terbatas, sesekali amarah menahan di dada.
Sekretaris pribadi (sespri), mengatakan kepada wartawan muda itu agar menunggu sedikit lagi. Dua jam di tempat duduk tanpa kopi dan kretek sungguh amatlah membosankan.
“Ini perang,” begitulah yang ada dibenak wartawan muda itu. Menurutnya, pejabat publik harus siap pada segala ketidakmungkinan yang datang. Termasuk wartawan yang datang mengkonfirmasi mengenai wilayah jajahannya. Bukankah seperti itu.? Sahutnya dalam hati.
Debu yang menghujani kota belum juga usai, kesabaran dari wartawan muda itu sudah memuncak, kerap ingin memasuki ruangannya langsung dan berteriak ketidaklayakan memegang jabatan publik. Takut bertanggung jawab terhadap wilayah kerjanya. “Beliau belum bisa bertemu dengan wartawan,” kata sekretaris pribadinya dengan nada pelan nan wajah polos.
Wartawan muda meninggalkan ruangan tanpa sepatah pertanyaan pun yang dilontarkan kepada sumber yang ingin diwawancarai, “menjadi wartawan muda pada saat di bulan puasa sedikit merepotkan, apalagi tanpa kopi dan kretek,” gumamnya sambil berjalan keluar dari ruangan.
Yang diinginkan semua orang akhirnya tercapai, debu Vulkanik sore itu sudah mulai reda, aktivitas di kota perlahan tampak kembali seperti semula. “Setidaknya penjual takjil tidak lagi khawatir dengan dagangannya,” pikir wartawan muda itu di atas motor tua yang menyusuri kota.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!