Secara kewilayahan, Tunas Agung mengungkapkan bahwa neraca perdagangan Maluku Utara terus melanjutkan tren surplus pada Februari 2025 sebesar USD 534,30 juta, di mana ekspor mencapai sebesar USD 837,94 juta dan impor sebesar USD 303,64 juta. Penyumbang devisa ekspor terbesar adalah ferronickel sebesar USD 1.196,95 juta, sementara penyumbang devisa impor terbesar adalah Belerang sebesar USD 54,82 juta.
“Frozen tuna menjadi komoditas ekspor non tambang teratas, mencapai USD 1.215,27 ribu, diikuti dengan kepiting bakau sebesar USD 63,99 ribu dan udang ronggeng sebesar USD 0,90 ribu,” terangnya.
Selain itu dia menambahkan, berdasarkan data BPS, Maluku Utara mengalami inflasi sebesar 0,16 persen secara yoy dan deflasi 0,11 persen secara mtm sebagai dampak kebijakan potongan tarif listrik. Komoditas utama penyumbang inflasi secara yoy terdiri dari bahan bakar rumah tangga, cabai rawit, emas perhiasan, dan sigaret kretek mesin.
“Untuk perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN), NTP gabungan Maluku Utara pada Februari 2025 mencapai sebesar 105,58 atau tumbuh 1,42 persen poin (m to m), di mana NTP mencapai sebesar 105,96 atau tumbuh sebesar 1,51 persen (m to m) berada di bawah NTP nasional sebesar 124,17. Sementara NTN juga mengalami pertumbuhan meskipun hanya sebesar 0,03 persen (m to m),” ucapnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!