Debat yang tak ada ujungnya ini membuat saya yang sedari tadi berada tidak terlalu jauh dengan tongkrongan itu pun memilih untuk pergi karena bosan. Tapi kepergian saya kali ini sebenarnya juga mempunyai alasan tersendiri.
Saya akan pergi memastikan bahwa durian yang dijual di beberapa titik di Kota Ternate benar adanya dari dua asal, yakni Ternate dan Jailolo. Slank, motor tua sudah menyala dan menyusuri sudut kota.
Tepat di depan sekolah SMA Negeri 2 Kota Ternate, Kelurahan Ubo Ubo, Ternate Selatan, beberapa buah durian telah dijajakan pada samping kiri jalan.
Ibu Santi, menjelaskan bahwa duriannya berasal langsung dari Kelurahan Foramadiahi, Ternate selatan. Harganya juga beragam sesuai dengan ukuran dan kualitasnya, mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per buah.
Sama halnya di depan Apotek Azzura, kelurahan Kota Baru. Banyak durian yang dijajakan di sepanjang jalan itu. Harganya sama persis yang dijual Ibu Santi di lokasi pertama. Durian tersebut asalnya juga dari Foramadiahi serta ada juga dari Kulaba, Ternate Utara.
Di depan warung makan Pak RT, kelurahan Kota Baru, ada juga yang menjajakan durian di sana. Nampaknya perdebatan di tongkrongan tadi benar adanya, bahwa ada durian yang diambil langsung dari Jailolo, Halmahera Barat.
Menariknya, ada warga yang menjelaskan bahwa durian yang dijual di depan pasar Higienis itu bisa dibedakan mana asalnya dari Jailolo dan mana dari Ternate. Saya menyimak saat ia menjelaskan.
“Kalau durian yang asalnya dari Ternate yang dijual di pasar Higienis biasanya langsung diikat dengan tali hutan (tali dari alam), kalau yang dari Jailolo biasanya diikat langsung dengan tali rafia. Jadi kita bisa membedakan,” jelasnya dengan nada yang sedikit pelan.
Sementara di tongkrongan, perdebatan panjang perihal durian belum juga usai. Hanya renungan ramadhan di radio RRI Ternate, pertanda kami harus bubar, waktu berbuka sudah dekat. ***

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!