Selain soal kesejahteraan, Nur Jalal juga mengungkapkan keluhan terkait risiko kerja yang tinggi tanpa perlindungan yang memadai. Menurutnya, para petugas acap kali berhadapan dengan marabahaya saat bertugas. Seperti saat melakukan pemangkasan pohon yang tinggi.
Pekerjaan ini kata dia, berkonsekuensi tinggi karena untuk menjangkau pohon yang tinggi harus membawa serta peralatan seperti parang dan gergaji mesin. Meski risikonya tinggi, Nur Jalal mengaku tidak mendapatkan asuransi dan upah yang layak.
“Di bagian ini ada lima orang. Saya dan Kamal Kader menerima Rp 3 juta per bulan, sedangkan tiga rekan kami yaitu Abdullah Togubu, Erwin M. Nur, dan Lawaro Anwar hanya Rp 2,5 juta. Dengan risiko pekerjaan yang kami hadapi, jumlah ini masih jauh dari cukup,” ungkapnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!