Tak hanya berdampak pada populasi dewasa, data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) mencatat adanya peningkatan prevalensi perokok usia di atas 10 tahun dari angka 34,2 persen (2007) menjadi 29,3 persen (2013) dan 28,8 persen (2018). Peningkatan juga terjadi pada prevalensi perokok pemula berusia 10-18 tahun yang berada pada angka 7,2 persen (2013), 8,8 persen (2016) hingga menjadi 9,1 persen (2018).
Menurut Fathiyah, data RISKESDAS juga menyoroti tingginya penggunaan rokok elektrik di kalangan anak dan remaja. Untuk proporsi rokok elektrik yang dihisap penduduk umur lebih atau sama dengan 10 Tahun adalah sebanyak 2,8 persen.
Dikatakan, jika dilihat lebih detail, pengguna terbanyak adalah kelompok usia 10-14 tahun (10,6 persen), disusul oleh kelompok usia 15-19 tahun (10,5 persen), dan terakhir kelompok usia 20-24 tahun (7 persen). Hal ini didukung pula oleh data dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2019 yang menyebutkan adanya peningkatan prevalensi perokok pada anak sekolah usia 13-15 tahun dari 18,3 persen di tahun 2016 menjadi 19,2 persen di tahun 2019.
“Berdasarkan data persentase merokok pada penduduk umur ≥ 15 tahun menurut Provinsi Maluku Utara yaitu pada tahun 2019 (31,18) persen, tahun 2020 (29,83) persen dan tahun 2021 (29,84) persen,” ucapnya.
Sementara Kepala Bidang SDK Dinas Kesehatan Kota Ternate, Muh Asri menambahkan, secara umum kebiasaan merokok pada masyarakat Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan, karena konsumsi rokok yang masih cenderung tinggi. Sementara beban biaya yang berkaitan dengan penyakit akibat rokok dan dapat menyebabkan terjadinya penyakit tidak menular (PTM) seperti gangguan pernapasan (PPOK, Asma), Penyakit Jantung, Stroke dan Kanker Paru, dan ini bukan hanya dari biaya pengobatan tetapi juga biaya hilangnya hari atau waktu produktivitas.
“Semakin banyak generasi muda yang terpapar dengan asap rokok tanpa disadari terus menumpuk zat toksik dan karsinogenik yang bersifat fatal. Apalagi saat ini anak-anak dan kaum muda kita semakin dijejali dengan ajakan merokok oleh iklan, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar,” kata Asri.
“Berhenti merokok memang bukan hal yang mudah dikarenakan adanya ketergantungan zat nikotin. Seorang perokok yang mencoba berhenti merokok dapat mengalami gejala putus nikotin (withdrawal syndrome),” sambungnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!