Sebab iktikaf Itu adalah kebiasaan Nabi yang kerap menghabiskan sepuluh hari dan malam terakhir Ramadhan di masjid untuk iktikaf. Dalam iktikaf, seseorang melakukan retret spiritual di masjid sepanjang waktu, melakukan berbagai bentuk zikir (mengingat Allah), seperti melakukan shalat tambahan, membaca dan mempelajari Alquran. Seseorang tidak keluar masjid kecuali dalam keadaan darurat. Iktikaf dengan waktu yang lebih singkat, seperti satu malam, sehari atau beberapa hari juga dianjurkan.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, jika aku tahu malam apa itu malam Lailatul Qadar, +apa yang harus aku katakan selama itu?’ Dia berkata: ‘Katakanlah: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku.’” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).
Kedua, membaca Alquran. Mungkin seseorang dapat memilih Surah atau bagian dari Alquran yang telah didengarnya di Tarawih Ramadhan yang lalu untuk dibaca. Saat menghadiri kelas pengajian Alquran, ini adalah waktu yang tepat untuk mempraktikkan ilmunya.
Ketiga, momentum menghapuskan dosa. Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah yang mengutip perkataan Rasulullah SAW, “Barang siapa berdiri (dalam shalat) di Lailatul Qadar sambil memelihara keimanannya dengan evaluasi diri, mengharapkan pahala dari Allah, maka semua dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).
Keempat, evaluasi diri. Seorang Muslim sudah seyogyanya menanyakan pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan yang perlu ditanyakan. Melakukan evaluasi di mana seseorang berada dan ke mana akan pergi menjadi penting. Biarlah evaluasi ini membawa setiap diri merasakan kebahagiaan atas kebaikan yang telah dilakukan dan penyesalan atas keburukan yang telah dilakukan. Perasaan terakhir ini seharusnya memudahkan untuk mencari pengampunan Allah yang tulus ketika memohon kepada Allah dan berdoa kepada-Nya di malam-malam yang diberkati ini.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!