“Untuk meningkatkan rasa ingin tahu terhadap bahasa dan budaya, perlu dilakukan upaya untuk memperkenalkan sastra lisan, dan Kabata menjadi salah satu alternatif upaya revitalisasi bahasa Tidore, selain itu perlu juga mempraktikan bahasa daerah, dibuat hari tertentu untuk menggunakan bahasa daerah,” pungkas Filia.
Adapun beberapa rekomendasi kebijakan revitalisasi bahasa Tidore ini yang diteliti tim peneliti dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini, berdasarkan riset dan dialog publik serta diskusi kelompok terumpun, bersama perwakilan Kantor Bahasa Maluku Utara, Perwakilan Kesultanan Tidore, guru SD, SMP dan Dosen Universitas Khairun.
Kemudian komunitas Tidore, tokoh adat, Dinas Pendidikan, guru Bahasa Tidore dan tim peneliti Universitas Indonesia diperoleh rekomendasi yang merupakan masukkan dari para pemangku kepentingan dan pengajar muatan lokal. (RY/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!