“Kami memiliki 176 siswa. Kurangnya ruang kelas membuat kami mengatur kelas bergantian, pagi dan siang bagi siswa. Fasilitas meja kursi yang minim juga membuat anak-anak terpaksa duduk berdua di satu kursi,” akunya.
Hal yang paling menantang, diakuinya, ketika masa Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tiba.
Pihak sekolah terpaksa bergabung bersama sekolah yang memiliki ruangan dan fasilitas IT.
Sebab, di tahun-tahun sebelumnya SD Inpres 24 Ambon tidak memiliki ruang khusus IT beserta fasilitas nya.
“Sebelumnya kami tidak punya ruang IT, jadi ketika masa kamu UNBK, kami gabung dengan sekolah lain, jadi kami tidak mandiri dalam hal pelaksanaan UNBK,” kata dia.
Selain itu juga, sekolah menerapkan kurikulum Merdeka Belajar, yang tentunya harus didukung dengan fasilitas IT.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!