Kenali Perbedaan Gejala Covid-19 dan DBD, Ini Kata Dokter RSUD Labuha Halsel

Halsel, Maluku Utara- Demam Berdarah Dengue (DBD) dan COVID-19 memiliki kemiripan pada beberapa gejala, sehingga cukup banyak orang keliru mengenalinya. Mengetahui perbedaan kedua penyakit tersebut dapat membantu Anda untuk mewaspadainya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Demam, sakit kepala, mual, dan muntah merupakan beberapa gejala demam berdarah dan COVID-19 yang tampak mirip. Kemiripan gejala ini dapat menyebabkan orang salah mengenali demam berdarah sebagai infeksi virus Corona atau sebaliknya, terlebih jika gejala tersebut dirasakan di tengah musim penghujan.

“Kalo virus covid-19 menyerang sistem pernapasan manusia, komplikasi yang paling berat bisa gagal napas sampai meninggal sedangkan virus DBD (dengue) menyerang manusia, komplikasi yg paling berat adalah syok dan perdarahan jika terlambat ditangani bisa meninggal juga,” kata dr. Dewi Puspitasari, salah satu dokter di RSUD Labuha Halmahera Selatan kepada haliyora.id, Rabu (31/8/2022).

BACA JUGA  Plt Sekda Morotai : Gaji PPPK tak Lagi Melalui Pemda

Menurut dr. Dewi, penularan kedua penyakit berbahaya ini juga berbeda, kalau Covid-19 penularannya melalui droplet (cairan ludah) ketika bicara. Beda lagi dengan DBD yang penularannya lewat gigitan nyamuk aedes aegypti. DBD katanya bisa bisa terjangkit dari orang yang sakit kepada orang yang sehat.

“Untuk mendeteksinya juga beda. Virus Covid bisa deteksi dengan alat periksa mengunakan PCR, TCM ataupun Antigen, sedangkan pasien penderita penyakit DBD sudah sakit demam pada hari ketiga baru periksa antibodi IgG dan IgM pada hari ke-3 setelah demam,” terangnya.

Untuk gejalanya lanjut dr. Dewi, juga berbeda. Covid-19 lebih ke infeksi saluran pernapasan sehingga menyebabkan demam, batuk, pilek, anosmia, nyeri badan, sesak, sementara virus DBD gejalanya demam, mual, muntah, nyeri sendi, nyeri perut, syok hipovolemik atau perdarahan akut.

“Makanya, bagi warga yang demam harus segera ke rumah sakit biar dipastikan apakah demam biasa atau terpapar virus DBD. Karena covid sudah ada vaksinnya, kalau DBD belum ada vaksinnya,” tukasnya.

BACA JUGA  Diduga Arahkan Dukungan, Tim Hukum Usman-Basam Laporkan Sejumlah ASN Ke Bawaslu Halsel

Meski belum ada vaksin DBD, tambah dr. Dewi, penderita penyakit DBD bisa juga dilakukan terapi tetapi sesuai gejala yang muncul dan bisa juga sembuh sendiri.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Halsel, Asia Hasyim mengaku covid-19 dan DBD kategori penyakit menular. “Covid menyerang sistem pernapasan manusia, sedangkan virus DBD menyerang sistem peredaran darah manusia ditularkan melalui gigitan nyamuk, pasien penderita DBD dapat disembuhkan terpenting cepat ditangani sebelum terlambat,” pungkasnya.

Asia menyebutkan, saat ini dari 116 kasus DBD di Halsel terbanyak ialah wilayah Ibukota dengan dua (2) orang penderita DBD dinyatakan meninggal dunia, sementara lainnya masih dirawat secara intensif di RSUD Labuha. (Asbar-2)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah