Sibualamo, Titik Jumpa Kemanusiaan

(Refleksi Diskusi dan Bedah Buku)

Oleh : Salim Taib Wakil Ketua Bidang Organisasi BP Sibualamo Maluku Utara

Perayaan hari Lahir Sibualamo ke-2 yang diselenggarakan pada tanggal 20 September 2021 di Royal Room dirangkaikan dengan Pengukuhan Pengurus Sibualamo Kota Ternate serta diskusi Buku dengan judul “Sibualmo Dalam Bingkai Persatuan dan Keragaman Budaya” yang menghadirkan pembahas utama yakni: Prof. Dr, Gufran Ali Ibrahim, Dr.Hermam Oesman dan Agus SB, tulisan ini hanyalah bagian dari refleksi kecil penulis atas pembahasan para pembahas utama berkaitan dengan buku Sibualamo. Penulis memulai dengan mengutib kembali apa yang disampaikan oleh Prof, Dr. Gufran Ali Ibrahim bahwa Sibualamo menjadi titik jumpa, Sibualamo secara leksikal memang bermakna ‘rumah besar’ tetapi secara kultural, sibualamo sesungguhnya adalah “titik perjumpaan”, tempat perembukan segala hajat social budaya berhulu sekaligus bermuara. Karena itu, ia menjadi pusat edar kosmologi kultur Tobelo-Galela. Sebagai ‘rumah besar’, sibualamo adalah ruang segala problem masyarakat dibincangkan, diikhtiarkan. Ia tidak sekedar lokus tetapi juga sebagai alam pikir. Sebab itu, bila terjadi keabaian dan kealpaan karena perkara Mondial yang membuat masyarakat tercerabut, Sibualamo (Bahasa Galela), Hibualamo (Bahasa Tobelo) adalah home sweet home yang menapis ulang dan menyelesaikan segala kerumitan social. Sibualamo bukan saja titik berangkat, tetapi juga tepat kembali semesta kesadaran kultural Tobelo-Galela. (Gufran A.Ibrahim 20 September 2021).

Catatan pandang terhadap Sibualamo oleh Guru Besar Antropolinguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun Prof.Dr, Gufran Ali Ibrahim dalam kutipan awal di atas memiliki muatan narasi yang sangat bernash bagi kita yang memiliki DNA sibualamo kini, dan bukan sibualamo dulu bahwa kesadaran komunal , kesadaran keragaman serta kesadaran kemanusian, oleh  manusia yang ber-DNA Sibualamo di gugat kembali oleh sang Prof, bahwa Sibualamo sebagai titik jumpa harus dimaknai kembali sesuai dengan perkembangan dan keinganan zaman dan kita tidak tercerabut dengan makna rumah besar sebagai tempat kembali semesta kesadaran kultural kita orang Tobelo-Galela.

Sibualamo (rumah besar) sebagai Kesadaran kultural dan titik jumpa kini, sejatinya harus menjadi suluh di tengah-tengah keragaman budaya apalagi dunia saat ini yang oleh Jhon Nicols dalam “The Deat Of Ekspertise” matinya kepakaran bahwa manusia kini nilai kemanusiaannya telah tercerabut dari akar kemanusiaan sejati. Semua problem di respon berdasarkan keinginan ketukan jemarinya tidak perduli penyampaiannya beralaskan nilai-nilai etika, penyampaiaannya membuat ketersinggunan kepada orang lain, dengan lain perkataan semua manusia di altar bumi telah menjadi pakar, kepakaran yang tiba-tiba itu telah mematikan kepakaran yang sesungguhnya karena kita jarang berjumpa di rumah besar secara visikly, kita lebih memilih berjumpa di toots, ditombol yang di genggaman mahluk bernama hand phone, kita tidak bisa nafikan dan hindari atas perkembangan jaman yang terus terjadi karena itu penting kiranya mendiklear posisioning Sibualaamo bukan saja locus tetapi juga menjadi tempat perjumpaan lapis gagasan pikiran, yang oleh Rektor Muhammadiyah Prof.Dr, Saiful Deni dalam tanggapannya mengatakan bahwa Sibualamo harus menjadi tempat pengembangan Sumber Daya Manusia.

BACA JUGA  Rumah Besar dan Kemen-dua-an yang Final

Sibualamo harus berevolusi dalam menghadirkan dirinya yang lebih inklusif tidak eksklusif, baik dalam laku dan berpikir, dengan jalan menghindari keterjebakan ‘ektase identitas’.karena ‘Ektase identitas’ hanyala meng-aku-kan etnisitas pada akhirnya memicu ambivalensi yang berpotensi mengkoyahkan keragaman relasi sosial, keragaman manusia yang beragam etnis itu harus disemai raga serta jiwa yang damai dalam rumah besar kita. Pada kontek inilah sibualamo telah mampu membikin ragam identitas etnis itu beruba, kamu, aku menjadi kami, sibualamo harus hadir meng-kami-kan kebhinekaan oleh sang Guru Besar Prof. Dr. Gufran bertutur “Sibualamo akan menjadi lebih baik tidak harus menghadirkan dirinya sebatas orang husus yang memiliki DNA Sibualamo, akan tetapi harus berkolaborasi dan berani keluar ring mencari perkawanan, ekspansi pada orang yang tidak memiliki DNA Sibualamo.

Mengekspansi untuk keluar dari satu ring menuju banyaknya ring membuat sibualamo tidak akan gampang mati jika tidak mau dibilang punah apalagi sibualamo hanya dijadikan sebagai bamper kekuasaan politik identitas, maka kecemasan sang moderator yang memoderatori jalannya bedah dan diskusi buku Abdul Kader Bubu, SH, MH, kecemasannya itu berkaitan dengan jika wadah sibualamo hanyalah menjadi tempat wacana merebut kuasa dan mempertahankan kekuasaan berdasarkan alas politik identitas dan mendapatkan soporting penuh dari kekuasaan itu maka usia sibualamo sebagai wadah akan berakhir dengan berakhirnya kekuasaan, saya kira kecemasan moderator itu perlu dipikirkan kembali lebih konfrehensiv, jika tidak maka kecemasannya akan menjadi kenyataan dikemudian hari, kecemasan yang sama juga disampaikan oleh pembahas Dr.Herman Oesman bahwa identitas sebagai tempat perjumpaan harus dihidupkan tanpa terlalu bergantung penuh pada kekuasaan, karena sibualamo menurutnya adalah repsentasi semua warga Tobelo-Galela yang harus berjalan terus menyemai kebaikan dengan penuh konsistensi, dengan lain perkataan “kehadiran Gubernur Malukun Utara sibualamo tidak menjadi besar, dan ketidak hadiran Gubernur tidak juga mengecilkan Sibulamo”(Muhaimin Syarif  ketua KKST).

BACA JUGA  Temui PT. Antam, Bupati Haltim juga Sentil Pencemaran di Marnopo

Semua perbincangan dalam bedah dan diskusi buku Sibualamo dalam bingkai persatuan dan keragaman budaya telah memicu ardenalin bagi semua pengurus BP Sibualamo Provinsi Maluku Utara untuk keluar dari keterjebakan wacana kekuasaan dan memeluk mati-matian berdasarkan politik identitas walaupun sesungguhnya tidak akan mungkin dihilangkan sama sekali, tapi kita mencoba memahami realitas dan mendesain kembali nilai-nilai etik yang telah dihadirkan saat dahulu kala oleh para leluhur Tobelo-Galela untuk mendirikan Sibualamo (Galela), Hibualamo (Tobelo), urgensi pendirian rumah besar yang menjadi latar belakang harus dihidupkan kembali oleh generasi sibualmo masa kini, salah satu contoh nilai etik universal oleh leluhur yang terus memperbincangkan problem Mondial untuk diselesaikan dalam rumah besar itu, oleh Prof. Rusman Soeleman dewan pakar Sibulamo daalam tanggapannya mengatakan bahwa “Tongone-tongone, Tonyawa-tonyawa (torang punya-torang punya, orang punya-orang punya) bisa menjadi spirit atas terciptanya clean Government  and good Governance pada budaya dan tradisi inilah sebenarnya kita ber-dna Sibualamo dapat berbangga karena para leluhur kita juga telah meletakkan nilai-nilai yang universal.

Akhirnya marilah kita akhiri menurut Agus SB, kemenduaan yang belum selesai antara Sibulamo (Galela) dan Hibualamo (Tobelo), yang oleh Prof Gufran kemenduaan kata itu harus dibiarkan sebagai satu kekayaan Bahasa dan wujud dari keragaman para Moyang bahasa dan Moyang kata, sibualamo dan hibualamo sebagai sunnatullah atas evolusi ragawi, karena hanya Tuhan yang disebut satu, selain Tuhan itu beragam. Karena dengan  keragaman itulah latar belakang pendirian Sibulamo atau rumah besar yang menjadi tempat titik perjumpaan kemanusiaan untuk meneyelesaikan segala kerumitan sosial, ekonomi, dan politik didirikan, oleh karena itu kini Sibualamo yang menjadi organisasi harus menjadi rumah perjumpaan azali, rumah perjumpaan kemanusiaan.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah