Dipecat Partai, Kader Demokrat Peserta KLB di Malut Membantah, Klaim 7 DPC Ikut Moeldoko

Ternate, Haliyora

Politisi Partai Demokrat (PD), Hendra Karianga termasuk salah satu kaders PD yang ikut dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang Sumatera Utara, Jum’at (05/03/2021).

Mantan anggota DPRD Provinsi Maluku Utara itu mengklaim ada tujuh DPC se-Provinsi Maluku Utara yang ikut dalam KLB.

Politisi senior yang menjabat wakil ketua I DPD Partai Demokrat Provinsi Maluku Utara itu menegaskan, KLB Deli Serdang sesuai amanat Partai.

“KLB itu sudah sesuai amanah Partai. Tidak ada aturan partai yang melarang kadersnya mengikuti KLB sehingga tidak ada sanksi pemberhentian dan sebagainya. Saya mau tanya aturan yang mana dalam konstitusi Partai Demokrat menegaskan bahwa kaders ikut kongres di kenakan sanksi pemecatan, tidak ada dalam aturannya,” tangdas Hendra saat dikonfirmasi, pada Senin (08/03/2021)

Menurut Doktor Hukum tersebut, seandainya ada pemecatan kaders yang ikut Kongres, berarti partai itu otoriter, monarchi dan disebut partai dinasti. Pemecatan seorang anggota Partai Demokrat, kata Hendra, ada mekanismenya, seperti  ada pelanggaran-pelanggaran berat yang dilakukan. Itupun bertahap, mulai diberikan teguran, peringatan, baru pemecatan.

”Nah  kalau mengikuti kongres itu wajar-wajar saja dan itu hak demokrasi, dan soal hasil lain lagi. Saya selaku pendiri Demokrat Provinsi Maluku Utara berhak mengikuti kongres kalau diundang, apanya yang salah ?, negri ini negri demokrasi dan bukan otoriter,” tandasnya.

BACA JUGA  PDIP “Kisruh”, Demokrat Siapkan Nama Calon Wakil Bupati Haltim

Sebelumnya, Rusdi Yusuf yang juga salah satu wakil ketua DPD Demokrat Malut menegaskan sejumlah kaders dan pengurus Partai Demokrat Malut yang ikut KLB akan dipecat dan dicabut keanggotaannya dari partai.

Rusdi bahkan menyebut KLB Deli Serdang adalah KLB abal-abal, karena bertentangan dengan AD/ART Partai.

Sementara menanggapi pernyataan Rusdi, Hendra menilai Rusdi Yusuf berpikiran  kolot.

“Pikiran-pikiran Rusdi itu sangat Kolot. Memangnya dia itu siapa ?, anak ini baru kemarin sore masuk Demokrat, kalau dia berbicara mengatasnamakan DPD, saya wakil ketua I DPD PD Malut, dan yang ikut KLB termasuk sekertaris DPD dan delapan orang pengurus DPD yang ikut kongres. Enak saja dia ngomong seperti itu. Menurut saya Rusdi itu bukan siapa-siapa di Demokrat,” semburnya.

Hendra kembali menerangkan, kongres merupakan keputusan tertinggi dalam sebuah partai politik. AD/ART, tata tertib pemilihan diputuskan dalam kongres, sesuai dengan amanat partai politik,” ujarnya

“Kalau bicara aturan partai, kongres AHY di tahun 2020, dengan KLB Moeldoko kemarin siapa yang tidak sesuai AD/ART ? ujar Hendra membandingkan.

Menurut Hendra, kongres  pertama tahun 2020 di Senayan yang menjadikan AHY sebagi ketua umum itu tidak sesuai AD/ART.

Ia menuturkan pada Kongres 2020 di Senayan tersebut tidak ada pembahasan jadwal acara, tidak ada pembahasan tata tertib, AD/ART dan tidak ada laporan ketua umum. Atas rekayasa AHY kemudian secara aklamasi dirinya dipilih sebagai Ketua umum DPP. 

BACA JUGA  THR ASN Haltim Mulai Diproses, Ada Kenaikan pada Tahun Ini

“Ini fakta, sedangkan KLB Deli Serdang kemarin semua proses dilalui dan dilaksanakan, forum dinyatakan korum karena memenuhi syarat 2/3 persen,” ungkapnya.

Lanjut Hendra, KLB tersebut dilakukan atas permintaan 2/3 Pemilik suara secara tertulis. Di KLB Deli Serdang ada 412 orang menandatangani surat yang diminta. KLB juga tidak perlu dihadiri ketua Majelis Tinggi, karena di UU telah mengatakan seperti itu.

“Nah Rusdi Yusuf itu lahirnya kapan di Demokrat, saya ini kaders dan pendiri Demokrat di Maluku Utara dan kami semua pengurus aktif, mana kaders yang dipecat kemudian mengikuti kongres, jadi jangan melakukan pembohongan publik, Rusdi bagi saya  tidak paham dan tidak mengerti apa-apa tentang Demokrat. Jadi jangan sok jelaskan aturan partai,” tandasnya.

Dikatakan, kehadiran sejumlah kaders dan pengurus Parta Demokrat Maluku Utara di KLB tersebut semata-mata ingin mengembalikan masa jaya partai Demokrat

“Kehadiran kami di KLB sama sekali tidak ada kepentingan, semata hanya ingin mengembalikan masa jaya partai Demokrat. Kami ingin Partai ini menjadikan partai terbuka, religius dan nasionalis, bukan seperti yang kita lihat sekarang dimana Partai Demokrat dijadikan partai dinasti. Kami ingin perubahan,” pungkasnya. (Ichal-1)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah