Potensi Rupiah dari Buah Pala Maluku Utara

  • Whatsapp

Ternate, Haliyora.com

Maluku Utara identik dengan rempah-rempah. Sejak dulu Maluku Utara yang juga disebut Moloku Kie Raha ini identik dengan rempah-rempah.

Bacaan Lainnya

Sejarah mencatat, bangsa-bangsa Eropa pernah berebut menguasai Maluku Utara karena ingin menguasai hasil rempah-rempah, terutama pala dan cengkeh.

Hingga sekarang, Pala dan cengkeh masih menjadi prioritas tanaman pilihan petani di Maluku Utara selain kelapa.

Haliyora.com mencoba membagi sedikit informasi, khususnya tentang potensi rupiah dari komoditas pala di Maluku Utara. Tentunya informasi ini diperoleh berdasarkan data dari sumber yang berkompoten yakni Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate.

Seperti disampaikan Kepala Seksi Karantina Tumbuhan, Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate Khori Arianti, S.Si. Ia mengatakan berdasarkan data IQFast (Indonesia Quarantine Full Automation System) bahwa pala termasuk dalam lima besar komoditas yang dilalulintaskan keluar.

“Berdasarkan data dari IQFast (Indonesia Quarantine Full Automation System) Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, pala termasuk dalam lima besar komoditas yang dilalulintaskan ke luar,”ujarnya kepada Haliyora.com melalui Keterangan tertulis. Senin (13/7/2020).

Kata Khoiri, pala Maluku Utara termasuk komoditas ekspor, meskipun sejauh ini belum dilakukan langsung dari Maluku Utara.

Selama ini, kata Khori, sebagian besar pala Maluku Utara dikirim ke Surabaya atau Bitung terlebih dahulu, baru kemudian diekspor.

“Sebagian besar pala Maluku Utara dikirim ke Surabaya atau Bitung terlebih dahulu baru kemudian diekspor,”ungkap Khori.

Ia menyebut, pada tahun 2019 tercatat biji pala Maluku Utara yang dilalulintaskan keluar sebanyak 2.712.999 kg. Jika diasumsikan harga biji pala kering Rp 60.000/kg di tingkat petani, maka potensi pendapatan petani pala di Maluku Utara pada tahun 2019 mencapai Rp162 milyar per tahun.

“potensi tersebut diperkirakan pada tahun 2020 ini akan terjadi peningkatan, mengingat data lalu lintas biji pala dari Januari hingga Juni 2020 telah mencapai 1.775.279 kg, meningkat 58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,”urai Khori.

Khoiri mengungkapkan, potensi ekspor pala Maluku Utara cukup besar. Pasarnya pun cukup luas. Berbagai negara di Uni Eropa berminat dengan pala dari Maluku Utara karena selain memiliki aroma dan cita rasa yang khas, juga rendemen minyak yang tinggi. Di negara tujuan ekspor, pala digunakan sebagai bahan baku industri obat-obatan, parfum, dan kosmetika.

“Hanya saja, secara nasional memang ada kendala terkait kualitas olahan dan mutu pala kita. Beberapa kali pala Indonesia mengalami penolakan di Uni Eropa karena kandungan aflatoksin yang melebihi ambang batas yang telah ditetapkan,”tandasnya.

Dijelaskan, aflatoksin merupakan senyawa racun yang dihasilkan oleh cendawan (mikotoksin) golongan aspergillus.

“Aflatoksin itu cukup berbahaya dan berpotensi mengancam kehidupan manusia serta hewan karena bersifat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker),makanya ditolak,”jelas Khori.

Lebih lanjut Khori menjelaskan, aflatoksin sebenarnya berkaitan dengan penanganan pasca panen. Petani kita di Maluku Utara, sambungnya, rata-rata masih menggunakan cara-cara tradisional dalam proses penanganan biji pala pasca panen, sehingga mempengaruhi kualitas.

“Maklum saja, sebagian besar pala kita dihasilkan dari perkebunan rakyat yang masih tradisional, menggunakan peralatan sederhana, dan minim teknologi sehingga dari faktor higienitas, pengeringan, kondisi penyimpanan tidak maksimal. Nah ini yang masih perlu diperhatikan,”ujar Khori.

Untuk itu menurut Khori, sebaiknya para petani dikenalkan dengan Good Agricultural Practices (GAP), sistem sertifikasi dalam praktik budidaya tanaman yang baik sesuai standar yang telah ditentukan.

“GAP menetapkan standar proses produksi pertanian dengan teknologi maju, ramah lingkungan, dan berkelanjutan sehingga menghasilkan produk panen yang aman dikonsumsi dengan memperhatikan kesejahteraan pekerja dan petani,”pungkasnya. (Rico)

Pos terkait