Untuk layanan air bersih, warga dikenakan iuran Rp 20 ribu per bulan, angka kecil yang kini menjadi salah satu penopang kas desa.
Namun, ketergantungan pada sektor tersebut dinilai belum cukup untuk menggantikan potensi ekonomi dari sektor wisata yang pernah hidup.
Pemerintah desa, kata Muhidin, mulai membuka opsi untuk menghidupkan kembali kawasan wisata tersebut. “Kami akan cari solusi bersama masyarakat,” ujarnya.
Rencana itu terdengar normatif. Sebab selama empat tahun terakhir, tak ada langkah konkret yang terlihat untuk menghidupkan kembali kawasan yang dulu ramai itu.
Pertanyaannya kini bukan hanya bagaimana menghidupkan kembali wisata tersebut, tetapi juga mengapa potensi yang pernah terbukti menghasilkan justru dibiarkan mati begitu lama.
Di tengah upaya pemerintah mendorong ekonomi desa berbasis wisata, kisah Pastina menjadi contoh lain bagaimana potensi lokal bisa hilang, bukan karena tak ada peluang, melainkan karena tak terkelola. (RMT/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!