Oleh : Faldan Agus
(Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam)
Sepak bola sering dipuji sebagai bahasa universal, olahraga yang melintasi batas kelas, identitas, dan ideologi. Namun di balik euforia stadion, sorak layar kaca, dan fanatisme klub, terdapat persoalan sosial yang jarang disorot secara kritis: bagaimana sepak bola, sebagai industri hiburan massal, berpotensi melemahkan kesadaran masyarakat terhadap realitas kemiskinan struktural dan praktik penindasan negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Maluku Utara, hiruk-pikuk sepak bola terutama laga besar seperti El Clásico sering menjadi jeda emosional di tengah tekanan hidup yang kian berat. Namun jeda itu perlahan berubah menjadi kelalaian kolektif. Saat masyarakat larut dalam perdebatan skor dan rivalitas klub Eropa, persoalan mendasar di daerah ini justru terus berjalan tanpa sorotan memadai.
Kemiskinan struktural, ketimpangan pembangunan antar-pulau, konflik agraria akibat ekspansi tambang, serta minimnya akses layanan dasar masih menjadi realitas harian sebagian besar warga Maluku Utara. Ironisnya, isu-isu tersebut kalah ramai dibandingkan perbincangan 90 menit pertandingan di layar kaca. Sepak bola, yang seharusnya menjadi hiburan, tanpa disadari berfungsi sebagai pengalih perhatian dari kegagalan negara dan elite lokal dalam menghadirkan keadilan sosial.
Dalam perspektif sosiologi kritis, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep false consciousness yang dikemukakan Karl Marx, yakni kondisi ketika kelas masyarakat gagal menyadari struktur ketimpangan yang menindas mereka karena teralihkan oleh simbol dan kesenangan semu. Sepak bola, dalam konteks ini, berfungsi sebagai instrumen distraksi kolektif bukan sekadar permainan, melainkan ruang pelarian emosional yang efektif dari kegagalan negara memenuhi hak-hak dasar warganya.
Pemerintah daerah pun kerap tampil reaktif terhadap kritik, namun progresif dalam merayakan simbol-simbol keberhasilan semu. Infrastruktur dibangun, tetapi tidak selalu menjawab kebutuhan rakyat; investasi masuk, tetapi manfaatnya tidak merata. Dalam kondisi ini, euforia sepak bola menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk melupakan, meski hanya sementara, rasa frustasi terhadap ketimpangan yang tak kunjung selesai.
Masalahnya bukan pada sepak bola, melainkan pada kesadaran kita sebagai publik. Jika energi kolektif yang dihabiskan untuk membela klub asing tidak pernah dialihkan untuk mengawasi kebijakan publik, maka kekalahan sejati bukan dialami Madrid atau Barcelona, melainkan masyarakat Maluku Utara sendiri yang perlahan kehilangan daya kritis atas nasibnya. ***









