Lebih lanjut, Nurjaya menambahkan permasalahan lain yang ditemukan yaitu mengenai lampu atau daya listrik yang dibutuhkan. Ada keinginan untuk diadakan tambahan daya 40 ribu volt guna mendukung operasional laboratorium.
Selain itu, Nurjaya mencatat adanya permasalahan terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tidak berfungsi sejak tahun 2022. “Hasil-hasil darah atau limbah medis cair tidak tahu mau dibuang ke mana karena IPAL-nya rusak,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia meminta kepada pemerintah kota Ternate untuk memberikan perhatian serius terhadap laboratorium ini, terutama dalam hal pengadaan reagen. “Pemkot harus memperhatikan agar bisa dimanfaatkan, karena potensi PAD dari sini sangat besar,” tegasnya.
Menurut Nurjaya, pemeriksaan urin terkait narkoba harus dilakukan di BNN karena alat yang ada di laboratorium tidak dimanfaatkan secara maksimal akibat masalah pengadaan reagen setiap tahunnya. “Kita perlu bangga dengan keberadaan laboratorium yang kaya di Labkesda ini. Dari 38 provinsi di Indonesia, hanya ada empat provinsi yang memiliki alat yang lengkap, termasuk yang ada di Kota Ternate,” tambahnya.
Dia juga menginformasikan bahwa jika kebutuhan pengadaan hanya sebesar Rp 300 juta, maka harus segera diwujudkan, karena potensi pendapatan bisa mencapai Rp 1 miliar, melebihi anggaran yang dialokasikan.
Sebagai penutup, Nurjaya menegaskan bahwa semua temuan masalah selama kunjungan ini akan terus dikawal dan disampaikan kepada pemerintah kota agar dapat ditindaklanjuti demi peningkatan layanan kesehatan kepada masyarakat. (*RFN/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!