Menjawab masukan tersebut, Gubernur Sherly mengakui memang di sektor perikanan dan pertanian banyak pihak swasta yang ingin berinvestasi. “Seperti hilirisasi kelapa per hari ini sudah di angka Rp 600.000, di Halmahera Utara ada PT Niko. Untuk perikanan dan pertanian, kita sudah berjalan di jalan yang benar karena nanti kita akan swasembada pangan pala dan cengkeh. Yang tidak ada tanda-tanda justru dari sektor pariwisata,” ungkap Sherly.
Di sisi lain lanjut Gubernur Sherly, pada APBD perubahan 2025 ini, Pemprov menaikan belanja modal dari Rp 500 miliar menjadi Rp 700 miliar, terutama di sektor pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan. Yang mana ada kenaikan sebesar Rp 120 miliar.
“Sedangkan untuk utang Dana Bagi Hasil (DBH) dari Rp 190 miliar yang ditetapkan di APBD induk 2025, kita sudah membayar sebesar Rp 120 miliar. Jadi semua paket 75 persen sudah ditenderkan di e-katalog BPBJ, ditargetkan di akhir Agustus semua sudah selesai tanda tangan kontrak sehingga uang mukanya sudah bisa cair 30 persen. Untuk belanja daerah di targetkan September sudah di angka 60-65 persen, agak tertinggal di sektor belanja karena kemarin ada sedikit macet,” pungkasnya. (RS/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!